• News

  • RS Corner

Gairah Mudik, Simbol Bangsa yang Optimistik

Ternyata hampir setiap Lebaran faktanya tercatat separuh (50%) jumlah penduduk Jakarta mudik. (Ilustrasi Mudik)
Ternyata hampir setiap Lebaran faktanya tercatat separuh (50%) jumlah penduduk Jakarta mudik. (Ilustrasi Mudik)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari-hari ini, ratusan ribu, bahkan jutaan warga bangsa ini melakukan “eksodus” sesaat secara besar-besaran. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Terutama berpindah dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, ke desa-desa atau ke udik-udik, tempat orang tua, kakek nenek dan leluhur tinggal. 

Karena orang-orang yang tinggal dan menetap di kota-kota besar  sekarang itu, hampir semuanya berasal dari desa atau dusun-dusun kecil atau udik. Tanpa orang desa atau orang-orang udik itu, jelas kota-kota besar tidak akan maju sepesat sekarang ini. Singkatnya, kemajuan yang diraih kota-kota besar itu adalah jasa orang-orang desa atau orang-orang udik itu.

Buktinya, tatkala orang-orang desa itu mudik di hari Lebaran atau hari Idul Fitri, maka Jakarta pun lengang. Kemacetan sehari-hari yang begitu parah, yang membuat kita stress, tidak terlihat pada hari-hari ketika orang-orang desa pada mudik, pulang kampung untuk melakukan silaturahmi dengan keluarga, orang tua, kakek nenek, sanak keluarga dan handai taulan yang sudah lama ditinggalkan.

Fenomena penuh gairah

Ada satu fenomena yang dapat kita tangkap dari peristiwa mudik ini adalah betapa bergairahnya orang-orang dalam melakukan peziarahan yang disebut mudik itu. Spirit mudik tampak sangat tinggi. Buktinya, meskipun terlihat sekali kalau para pemudik itu harus berdesak-desakan di dalam bis dan kereta api, dan harus menghadapi jebakan kemacetan yang sangat parah di jalan, bisa sepuluh jam atau lebih, tetapi semangat mudik orang-orang udik atau orang-orang desa itu tidak pernah surut.  Dan terlihat mereka begitu menikmatinya. 

“Kalau bukan terjebak macet berjam-jam lamanya di jalan, hingga puluhan jam atau lebih yang biasanya hanya ditempuh dalam beberapa jam saja, itu bukan mudik namanya. Kalau mau mudik maka harus siap mental untuk menghadapi kemacetan yang sangat parah.” Itulah yang sering kita dengar dari cerita orang-orang mudik. Dan cerita orang-orang mudik yang mengalami kemacetan seperti itu, selalu dengan penuh bersemangat. Tidak ada kata-kata menggerutu yang keluar dari mulut para pemudik itu. 

Dan di situ, kita tidak butuh teori-teori yang rumit untuk menjelaskan adanya fenomena tersebut. Itu tidak lain sebagai tanda kalau bangsa ini sebenarnya memiliki optimisme yang tinggi dan selalu bergairah dalam menjalankan kehidupan ini. Adalah tanda kalau bangsa ini adalah bangsa pejuang, bangsa yang tidak gampang putus asa, bangsa yang senang  dengan tantangan yang akan dihadapinya, kalau sesuatu di seberang jalan perjuangannya itu baik adanya. Bangsa yang bisa diajak menderita kalau di balik penderitaan itu memang ada kebahagiaan, ada kegembiraan dan kesuksesan dan keuntungan yang dapat diraihnya. 

Dan fenomena ini harus ditangkap oleh para pemimpin bangsa ini. Bahwa warga bangsa ini kuat dalam menghadapi segala ujian yang dihadapinya. Adalah bangsa pejuang yang selalu optimis. Buktinya, bangsa ini berhasil meraih kemerdekaan dengan hasil perjuangan sendiri dan dengan pengorbanan nyawanya sendiri. Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia adalah hasil dari jerih payahnya sendiri, bukan hadiah dari penjajah terutama Jepang atau Belanda. 

Dan simbol sebagai bangsa pejuang yang penuh optimistik itu bukan hanya terbukti dalam meraih kemerdekaan, dan terekspresi dari fenomena mudik tersebut, tetapi juga dari kesanggupan bangsa ini dalam menghadapi dan mengatasi aneka macam krisis, seperti krisis ekonomi yang terjadi di masa menjelang dan setelah jatuhnya rezim Orde Baru dan masuknya era reformasi.

Artinya, rakyat negeri ini memiliki kekuatan mental, keuletan, ingin terus maju dan mau mandiri. Apalagi Indonesia memiliki potensi-potensi dahsyat untuk maju, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Potensi-potensi itu pula yang mengarahkan diri dan keyakinan kita untuk tetap optimis dan sadar dalam memandang masa depan yang lebih baik. 

Hal itu juga harus didasari oleh sebuah kesadaran, seperti kata filosof kondang Karl Popper, bahwa bangsa yang besar selalu dibayangi oleh persoalan-persoalan besar atau krisis-krisis besar. Karena itu, kita harus memiliki pemimpin-pemimpin yang berkarakter kuat dalam diri untuk membuat bangsa ini tetap kokoh kuat dan bergerak maju menuju sukses. 

Dan watak bangsa yang penuh gairah itu harus ditangkap oleh pemimpin bangsa ini. Bahwa bangsa ini memiliki keuletan, kekuatan dan kegairahan untuk menjalankan hidup dan punya spirit untuk maju dan sukses itu. Di sini, budaya unggul yang pernah didengungkan oleh presiden terdahulu, Susilo Bambang Yudhoyono, bukan sekadar retorika. 

Kini tergantung pada bagaimana pemimpin bangsa di eksekutif dan para pemimpin di semua strata kehidupan masyarakat bangsa ini memiliki kesanggupan, kesadaran dan kemauan untuk mengelola segala potensi yang dimiliki bangsa ini untuk maju. Pemimpin yang sanggup melakukan proses revitalisasi dalam kehidupan masyarakat menjadi aktualisasi dalam patos menjadi etos. 

Perpaduan antara etos bangsa dan etos pemimpin yang ulet, rajin, kerja keras, cerdas dan berkemauan yang kuat serta memiliki integritas yang mumpuni serta inovatif,  maka berbagai tantangan dan krisis apa pun yang akan datang menghadang, akan dihadapi dengan tenang, dan semua itu merupakan tantangan untuk maju dan memiliki peluang untuk sukses. 

Di atas semua itu, penulis teringat kata seorang futurolog Thomas Friedman, bahwa keberhasilan masa depan sebuah bangsa tergantung pada bagaimana kita, terutama para pemimpin menyikapi dan mengelola berbagai pengalaman pahit masa lalu (memori passionis) untuk membangun impian masa depan yang lebih baik.

Friedman mengajukan pertanyaan, does your society have more memories than dreams or more dreams than memories? Masalahnya, tentu tergantung pada apakah kita memiliki lebih banyak memori ketimbang mimpi, atau sebaliknya?

Membangun optimisme bangsa

Maka, yang diperjuangkan secara terus menerus kini adalah bagaimana kita membangun optimisme bangsa agar dapat meraih masa depan yang gemilang, bisa menjadi bangsa terkaya nomor 5 dunia, seperti yang tertulis dalam buku saya, “2015 Kita Terkaya No.5

Artinya, di tengah kesemrawutan hidup bangsa yang masih terasa dan terlihat di sana-sini ini, pasti selalu ada titik terang yang dapat menuntun kita di jalan menapaki hari esok yang lebih baik dan lebih sukses. Hanya di dalam diri kita sebagai bangsa yang ingin terus bekerja membangun optimisme inilah bangsa kita dapat menjadi bangsa yang kuat dan maju.

Di akhir tulisan ini, saya hanya mengucapkan selamat bermudik bagi saudara-saudara yang melakukan ziarah mudik, berhati-hati di jalan dan selamat sampai tujuan serta optimislah selalu. Optimis adalah magnet dahsyat untuk meraih hari esok yang lebih baik dan lebih sejahtera.

 

 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura