• News

  • Editor's Note

Politik ‘Dua Kaki‘ Partai Demokrat: Siapkan AHY di 2024?

Presiden Jokowi bersama Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono
Istimewa
Presiden Jokowi bersama Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono

Berita Terkait

Pernyataan ini memang akhirnya mendapatkan tanggapan dari pengamat politik Yunarto Wijaya. MenurutnYunarto, strategi Partai Demokrat ini dilakukan untuk memuluskan langkah putera SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2024 mendatang.

"Batu loncatan mereka untuk (Pilpres) 2024 itu harus dibangun dari (Pilpres dan Pemilu Legislatif) 2019," ungkap Yunarto, seperti dikutip BBC, Senin (10/9/2018).

Yunarto menambahkan, modal pertama yang harus disiapkan untuk memuluskan AHY dalam Pilpres 2014 adalah Partai Demokrat harus meraup suara "cukup besar" di pemilu legislatif 2019.

"Caranya, mereka kemudian bersikap realistis untuk mengamankan partai Demokrat (dalam pemilu legislatif 2019), dan salah satunya adalah bagaimana mereka kemudian bisa bermain di wilayah abu-abu," tambahnya.

"(Mereka) tidak mengorbankan suara-suara Partai Demokrat hanya karena pertarungan di pilpres yang akan merugikan mereka di beberapa daerah tertentu. Dan merupakan pilihan realistis di daerah-daerah yang (pendukung) Jokowi sangat kuat, lebih baik mereka membiarkan kader-kadernya, dalam konteks ini ketua DPD (Partai Demokrat), untuk mendukung Jokowi," sambungnya.

Pendapat yang sama juga dilontarkan pengamat politik Karyono Wibowo. Dia menilai, sikap berbeda pilihan yang ditunjukkan sejumlah kader Demokrat menunjukkan ada dinamika politik yang berseberangan terkait dengan pilihan capres, meskipun dikemas dengan bahasa dispensasi atau alasan mengamankan suara partai demi pemilu legislatif.

"Menurut saya dispensasi itu istilah halus 'Main Dua Kaki," kata Karyono dalam keterangan tertulisnya yang diterima NNC, Kamis (13/9/2018).

Fenomena politik semacam ini, lanjut Karyono, sudah menjadi tabiat para politisi di setiap kontestasi pemilihan presiden maupun kepala daerah. Hal itu tidak hanya terjadi di partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Sejatinya tidak hanya kader dan pengurus, tapi juga di tingkat pemilih Partai Demokrat. Tentunya di akar rumput yang menjadi basis pemilih partai Demokrat juga terjadi perbedaan pilihan capres," tegasnya.

Kendati demikian, lanjut Karyono, fenomena adanya main dua kaki bukan untuk mengamankan Agus Harimurti Yudhono (AHY) di kabinet Jokowi-Ma'ruf jika terpilih Pilpres 2019. Namun beberapa kader Demokrat yang justru memanfaatkan situasi.

"Mungkin kalaupun ada yang masuk kabinet justru bukan AHY, tapi kader Demokrat seperti TGB dan Sukarwo," imbuhnya.

Tanggapan partai koalisi Prabowo-Sandiaga?

Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya