• News

  • Editor's Note

Roda Tetap Berputar, Yang Kalah Dirangkul dan Belajar dari Gubernur Anies

Anies Baswedan mengangkat keranda korban aksi 22 Mei 2019.
Foto: PPID Jakarta
Anies Baswedan mengangkat keranda korban aksi 22 Mei 2019.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Siapapun akan merasakan suasana hati yang tidak nyaman ketika menderita kekalahan. Apalagi bila di dalam dirinya meyakini bahwa kekalahannya disebabkan oleh sesuatu yang dianggap tidak adil dan curang.

Berjuang menegakkan keadilan dari tindak kecurangan memang suatu keharusan. Andaikata perjuangan itu juga berakhir pada kegagalan dan tetap kalah, juga membutuhkan proses dan waktu untuk menerimanya dengan lapang dada.

Menerima maupun menolak kenyataan tidak membuat dunia berhenti berputar. Kehidupan harus tetap dihadapi dan dijalani menuju hari-hari di masa mendatang.

Semua proses pahit itu seringkali mengundang gejolak emosi. Dorongan ingin marah tak terhindari. Di satu sisi, ingin ditolak. Namun di sisi lain tidak mudah untuk dibasmi.

Mengutip pendapat psikolog Universitas Harvard, Susan David, disebutkan bahwa setiap individu maupun kelompok memiliki kecenderungan yang sama untuk menolak dorongan emosi negatif.

Mereka berharap, dorongan itu bisa hilang dengan sendirinya. Padahal, dibutuhkan teknik tertentu agar fenomena tersebut bisa dikelola sehingga menjadi bersifat positif dalam arti memperkuat mentalitas diri di saat menghadapi situasi buruk di masa mendatang.

Untuk itu, Susan David memberikan beberapa kiat khusus yang bisa dilakukan.

Pertama, sadari pikiran dan dorongan emosi negatif yang akan muncul berulang. Proses ini dinamakan ruminasi, yakni mengadirkan kembali penyebab stres dalam pikiran kita.

Dengan menyadarinya, kita sudah memulai langkah awal yang baik untuk memutus rantai godaan (setan) dari kecenderungan untuk meledak dalam kemarahan.

Kedua, berilah label pada setiap jenis perasaan dalam diri kita. Dampak dari kegagalan sebenarnya melahirkan banyak jenis perasaan yang ditimbulkan. Ada yang namanya sedih, marah, sedih, kesal, kecewa, malu, harga diri merasa direndahkan, dan sebagainya.

Semua perasaan itu seringkali campur aduk menjadi satu sehingga beratnya laksana gunung Mahameru dan sakitnya tidak ketulungan. Dengan memberi label, kita mulai membuat jarak terhadap diri kita dan perasaan tersebut.

Ketiga adalah tahap penerimaan. Sikap menerima bahwa diri kita memang sedang emosi, marah, kecewa, jengkel, dan sebagainya, sangatlah baik untuk membuat kita mampu cepat sembuh, bangkit, dan mampu melalui masa-masa kegagalan.

Sikap menerima membuat diri kita membuka diri dengan suasana yang baru yang berbeda dari apa yang kita kehendaki. Mulanya pasti sulit, tetapi begitu bisa menerima, akan muncul perasaan lega dan damai.

Keempat, adalah tahap memaknai emosi negatif. Ini adalah tahap yang lebih dalam, di mana seseorang akan mengambil hikmah. Setiap kejadian menyakitkan, kegagalan, kekalahan pasti selalu memberi pelajaran yang berharga bagi kita.

Kelima adalah tahap terahir yaitu bangkit kembali dan berani melanjutkan hidup kita. Pada tahap ini seseorang yang dirundung kegagalan sudah mampu beraktifitas seperti sediakala.

Badai kehidupan telah dilaluinya. Ia bisa saja merasakan seperti terlahir kembali menjadi manusia baru. Dengan diri yang baru, ia siap merajut mimpi yang baru.

Seseorang yang terbiasa melalui jatuh, sakit, emosi, amarah meledak, kemudian berdamai, mampu melampaui badai tersebut, dan bangkit memulai perjuangan baru, cenderung akan menjadi pribadi yang tangguh.  

Kesuksesan tertinggi bukan sekali berjuang kemudian tercapai. Terbukti bahwa seseorang yang pernah meraih sukses besar, harus melewati proses jatuh bangun berulangkali. Justru bila tidak dilalui, maka kesuksesan tidak akan pernah terwujud.

Pemikiran Susan David sedikit atau banyak bisa menjadi pegangan bagi semua pihak yang mungkin merasa kalah akibat Pemilu 2019. Semuanya, tidak hanya capres, cawapres, caleg, bahkan para pendukungnya pun pasti merasakan sakit.

Pihak yang menang tidak boleh jumawa. Yang menang tidak boleh sombong, bahkan wajib untuk merangkul kembali saudara-saudara yang kali ini kalah dalam pilihan politiknya maupun kalah dalam pencalonan dirinya sebagai wakil dan pemimpin rakyat.

Dalam konteks kelompok sosial, pendukung pihak yang kalah juga harus melakukan proses recovery yang prinsipnya tidak jauh berbeda. Kelompok yang menang wajib merangkul kelompok yang kalah.

Dalam proses ini, peran pemimpin masyarakat dan tokoh bangsa sangat berperan penting. Mereka memiliki tanggung-jawab moral untuk merangkul siapapun yang kalah.

Contoh menarik dan sangat baik sudah ditunjukkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Di tengah “emosi” pascakerusuhan yang melanda Jakarta selama 21-22 Mei 2019, dengan hati yang tulus, ia terjun ke masyarakat dan merangkul dengan caranya.

Gubernur Anies tak ragu sedikitpun untuk ikut takziyah dan mengangkat keranda korban meninggal dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019. Tindakan seperti ini bukan kali ini saja. Beberapa kali sebelumnya sudah ia lakukan ketika ada warga yang meninggal akibat peristiwa tragis.

Yang juga penting untuk dicatat, ia selalu tetap mengenakan seragam gubernurnya. Ini patut digarisbawahi sebagai simbol kehadiran “negara” dalam merangkul mereka yang hatinya terluka.

Apa yang dilakukan Gubernur Anies bukan semata demi meredakan psikologi sosial keluarga dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi korban kerusuhan, tetapi ini merupakan wujud spiritualitas otentik dan tinggi  dalam peradaban umat manusia.

Ketika saudara kita tersakiti, jadikanlah kita pembawa penghiburan dan kesejukan.

Dengan cara itu, apa yang pasti sangat berat (seseorang meninggal selalu menggoncangkan keluarga yang ditinggalkan), menjadi sedikit berkurang dan bisa dihadapi. Sudah semestinya antara manusia yang satu dengan yang lainnya untuk saling mencintai.  

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?