• News

  • Editor's Note

Lebaran, Kolaborator Kerusuhan Kumpulkan Energi untuk Gempur Jakarta?

Sejumlah massa menyerang petugas kepolisian dalam bentrokan 22 Mei 2019
Foto: Antara
Sejumlah massa menyerang petugas kepolisian dalam bentrokan 22 Mei 2019

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebaiknya semua pihak tetap mewaspadai setiap jengkal waktu hingga semua proses Pemilu 2019 selesai, khususnya TNI dan Polri. Kesolidan, kecermatan, dan aksi cepat sangat dibutuhkan untuk menjaga Indonesia tetap kondusif di bawah payung Pancasila dan UUD 1945.

Momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran yang seharusnya menjadi hari yang suci, sangat terbuka untuk ditunggangi pihak tertentu. Momen silaturahmi keagamaan untuk saling bermaaf-maafan bisa dipakai mereka untuk merapatkan barisan.

Ini bukan persoalan paranoid namun persoalan sistem pengamanan nasional. Kewaspadaan tetap dibutuhkan, khususnya dalam menghadapi sidang sengketa Pilpres 2019 yang digelar MK pada 14 Juni 2019 hingga putusan dikeluarkan pada 28 Juni 2019.

Kewaspadaan seperti ini juga penting untuk menengarai suhu politik di tanah air yang diperkirakan akan kembali  memanas pada kurun waktu tersebut.

Kemenangan Capres-Cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin tidak diterima oleh sebagian pihak dan disinyalir masih akan ditunggangi kolaborator kerusuhan yang mengincar sejumlah keuntungan dari kekacauan yang ditimbulkan.

Kewaspadaan seperti itu juga senada dengan pernyataan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens. Ia menyatakan bahwa pihak yang kalah disinyalir tidak akan terima kekalahan kemudian ditunggangi sejumlah kolaborator kerusuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Boni Hargens dalam acara dialog kebangsaan bertajuk “Peran Masyarakat, TNI, dan Polri pada Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta Dalam Menanggulangi Kerusuhan” di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019).

"Saya mau mengatakan saja bahwa situasi kita ini begini, pemilu sudah selesai, ada yang kalah ada yang menang. Tetapi yang kalah tidak menerima kenyataan itu. Lalu tiba-tiba muncul kekacauan, ada kerusuhan," kata Boni.

Yang sangat menarik dari pernyataan Boni adalah bahwa kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 adalah baru permulaan karena situasi akan lebih menegangkan saat sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). 

Seperti diketahui bersama, Tim Kuasa Hukum Badan Pemenangan Nasion (BPN) Prabowo-Sandi yang diketuai oleh Bambang Widjojanto, telah mendaftarkan gugatan sengketa hasil pilpres 2019 ke MK.

"21-22 Mei itu baru permulaan, percaya saya, itu baru permulaan. Setelah Lebaran, energi mereka akan bertambah. Maka akan kita hadapi situasi yang cukup menegangkan menjelang sidang MK tanggal 14 Juni," ucapnya.

Boni bisa mensinyalir demikian sebab LPI telah melakukan investigasi. Hasilnya menunjukkan bahwa ada kolaborator yakni pengusaha bisnis kerusuhan kongkalikong dengan kelompok yang ingin menumbangkan rezim demokrasi.

"Pertanyaan terbesarnya adalah ini skenario apa? Apakah ini sekedar ketidakdewasaan berdemokrasi atau ada sesuatu yang lebih serius dari itu?" tanya Boni.

Ia pun menjelaskan, dari hasil investigasi yang dilakukan LPI, "Kami menemukan ada sekelompok orang yang memang memiliki kegiatan bisnis kerusuhan, bisnis menumbangkan rezim demokrasi, itu sudah sukses di beberapa negara di Timur Tengah."

Boni menjelaskan, kelompok yang memiliki bisnis kerusuhan ini bekerja sama dengan kelompok radikal yang ingin mendirikan negara Khilafah.

"Kelompok ini adalah konglomerat yang pernah jaya di masa lalu kemudian berkolaborasi dengan kaum radikal mereka yang ingin mendirikan negara Khilafah, negara berbasis agama," terang Boni.

"Nah perpaduan yang sangat rumit antara pedagang politik, pengusaha politik, pengusaha kerusuhan dengan kelompok radikal ini melahirkan skenario produksi kekerasan yang sistematis," tandas Boni.

Analisa Boni patut menjadi pijakan, khususnya bagi Polri dan TNI untuk tetap solid dalam membendung niat jahat kelompok tersebut.

Sementara rakyat sedang merayakan Lebaran, TNI dan Polri tidak boleh lengah mewaspadai kecenderungan mereka memanfaatkan masa Lebaran untuk kembali merancang skenario jahat.

Editor : Taat Ujianto