• News

  • Editor's Note

Anda Tepuk Tangan karena Mudik Tidak Macet? Ketahuilah ‘Tumbalnya‘!

Lebaran 2019, kendaraan memadati pintu gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jabar
Foto: Antarafoto
Lebaran 2019, kendaraan memadati pintu gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jabar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sudah menjadi tradisi di Indonesia, Lebaran tiba berarti musim pulang kampung atau mudik juga tiba. Para perantau berbondong-bondong menuju kampung halaman menjelang Lebaran dan kembali lagi ke tanah rantau usai Lebaran.

Walaupun rutin terjadi setahun sekali, tetapi masing-masing tahun memiliki keunikannya sendiri-sendiri, terutama di Pulau Jawa. Pada tahun-tahun sebelumnya, banyak orang mengatakan “mudik berarti kemacetan dan itulah indahnya Lebaran.”

Dahulu, berita saat Lebaran di mana-mana diwarnai drama pemudik kelelahan, stres, melahirkan di tengah jalan, tak sadarkan diri saat mudik akibat kecapekan, dan sebagainya.

Akan tetapi, pada Lebaran tahun 2019 relatif mengalami banyak perubahan. Pemandangan macet selama dua tahun terakhir semakin terurai. Cerita keluhan berjam-jam tertahan kemacetan semakin jarang terdengar.

Situasi ini diramaikan juga dengan munculnya tagar #MudikLancarBanget yang menjadi salah satu trending topic pada lini masa Twitter Indonesia. Ragam kicauan warganet membanjiri tagar tersebut dengan berbagai banyolan khas Indonesia.

Banyak penikmat mudik juga mengaku merasakan kenyamanan karena adanya fasilitas toilet yang bersih di sejumlah titik peristirahatan pada jalur mudik (rest area).

Ada satu pemudik yang mengaku perjalanan mudik tahun ini merupakan perjalanan paling cepat sepanjang mudik ke Jawa Tengah. Ia mengendarai mobil pribadi dari Jakarta sampai di Semarang hanya menempul 6 jam. Itu pun sudah termasuk istirahat 1 jam di rest area.

Apa penyebabnya? Salah satunya adalah akibat pembangunan jalan tol Trans Jawa yang sudah beroperasi penuh. Sistem pengaturan lalu lintas, one way yang diberlakukan oleh Jasa Marga dan korlantas juga terbukti ampuh mengatasi macet selama mudik.

Bagi Anda yang merasakan mudik menyenangkan akibat pembangunan jalan tol Trans Jawa, sebaiknya juga mengetahui harga mahal di balik semua itu. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya menjadi “tumbal” demi mengurai tradisi kemacetan mudik.

Dalam catatan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan bahwa keberadaan jalan tol Trans Jawa juga diiringi penurunan lalu lintas (traffic) di jalan non-tol.

Penurunan hingga mencapai 70 persen setidaknya di 8 titik seperti di Merak, Sadang, Balonggandu, Rancaekek, Prupuk, Pejagan, Tegal dan Kendal. Penurunan jumlah pemudik di jalur non-tol ternyata juga terjadi untuk jenis kendaraan roda dua.

Ini berarti, tak sedikit pemudik yang lebih memilih menggunakan mobil (termasuk bus). Jumlah kendaraan motor yang keluar masuk sekitar 42.270 atau turun 75,09% jika dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 169.755. 

Padahal, jalur non-tol selama Lebaran juga relatif lancar. Akan tetapi, tampaknya mayoritas pemudik tahun 2019 lebih memilih menggunakan mobil dan memilih jalur tol karena dianggap lebih efektif, fokus, dan praktis.

Fenomena ini bukan berarti membuat semua pihak bergembira. Ribuan orang ternyata justru “menjerit” akibat pembangunan jalan tol Trans Jawa. Mengapa?

Anda bisa bayangkan, mereka yang tahun-tahun sebelumnya bisa menikmati keberlimpahan rejeki saat Lebaran, pada tahun ini benar-benar tidak merasakannya. Tingkat pendapatan mereka mengalami terjun bebas.

Pedagang dari mulai warung kopi, es kelapa, mie rebus, gorengan ikut mengalami imbas dari berkurangnya pemudik di jalur non-tol. Jumlah pemudik yang mampir ke warung mereka menurun drastis.

Berdasarkan pemantauan Netralnews.com, jalur non-tol yang tahun-tahun sebelumnya dilalui pemudik, terlihat tidak seramai tahun sebelumnya. Salah satu contohnya adalah di jalur mudik sekitar Alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Penurunan omzet mereka yang menjajakan makanan di jalur ini turun hingga 90 persen dibanding tahun lalu. Hal ini jelas akan membuat mereka berpikir ulang terhadap sumber mata pencaharian di masa-masa mendatang.

Bila libur Natal dan Lebaran selalu membuat pundi-pundi mereka penuh, pada tahun-tahun mendatang pundi-pundi mereka terancam akan kering kerontang. Hal ini pasti akan mengguncang psikologi sosial dan sistem perekonomian mereka.

Bencana serupa juga dialami oleh pengusaha rumah makan di jalur-jalur non-tol. Padahal, ada ratusan hingga ribuan warung makan di jalur tersebut. Bahkan ada yang memiliki halaman parkir kendaraan yang luas karena setiap Lebaran, pengunjungnya membludak.

Pada tahun 2019, usaha mereka terancam gulung tikar. Jumlah bus, truk, mobil pribadi yang mampir untuk menikmati sajian berbagai rumah makan sangat menurun. Pelanggan mereka banyak yang pindah menempuh jalan tol Trans Jawa.

Tidak hanya sampai di situ. Dengan penurunan omzet, pemilik warung makan juga memberhentikan para pegawainya. Bila satu warung makan sebelumnya mempekerjakan 6 orang dan ada sekian ribu rumah makan, maka bisa diperkirakan berapa ribu orang terkena dampaknya. 

Dengan demikian, keberadaan jalan tol Trans Jawa juga akan melahirkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Mereka harus berpikir ulang bagaimana menemukan solusi penghidupan di masa-masa mendatang.

Zaman telah berubah.

Editor : Taat Ujianto