• News

  • Editor's Note

Halalbihal Jokowi-Prabowo Digelar Sebelum MK Ketok Palu, Betapa Indahnya

Pertemuan Joko Widodo dan Prabowo empat tahun silam (30-1-2015)
foto: medcom.id
Pertemuan Joko Widodo dan Prabowo empat tahun silam (30-1-2015)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Hari Jumat, (14/6/2017) Mahkamah Konstitusi (MK) akan mulai menggelar agenda sidang gugatan sengketa hasil Pilpres 2019 yang diajukan oleh kubu Capres-Cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.  

Dalam sidang itu, MK akan memeriksa kelengkapan, kejelasan materi permohonan dan mengesahkan alat bukti. Bila ada perbaikan dan penambahan keterangan juga diselesaikan hari itu juga.

Tahap selanjutnya akan berlangsung pada tanggal 17-24 Juni 2019 yakni sidang pleno pemeriksaan persidangan. MK akan mendengarkan jawaban termohon, keterangan pihak-pihak terkait, keterangan Bawaslu, keterangan saksi atau ahli, dan memeriksa alat bukti.

Pada tanggal 25-27 Juni 2019, akan dilakukan Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH). Keesokan harinya, 28 Juni 2019, barulah diadakan sidang pleno pengucapan keputusan.

Terakhir, antara 29 Juni hingga 2 Juli 2019 adalah waktu untuk penyerahan salinan putusan dan pemuatan keputusan dalam laman MK.

Sedikit ataupun banyak, detik-detik bersejarah tersebut dipastikan akan mempengaruhi suhu politik di Indonesia. Alangkah indahnya jika dalam kurun waktu itu, dilakukan acara Halalbihalal Kebangsaan untuk merangkul semua tokoh bangsa di Indonesia.

Mumpung masih diliputi suasana Idulfitri atau Lebaran, semua pihak bisa saling maaf mamaafkan. Walaupun konteksnya spiritual, momen Halalbihalal juga sangat baik untuk menjernihkan semua unsur negatif yang memungkinkan terjadinya perpecahan akibat proses Pemilu 2019.

Dalam Halalbihalal terdapat jiwa silaturahmi penuh ketulusan dan sarat dengan unsur cinta kasih. Rakyat Indonesia membutuhkan sentuhan kasih dan menjauhkan diri dari ujaran-ujaran kebencian. Beda pendapat wajar tetapi caci maki yang terjadi selama Pemilu 2019 harus dinetralisir.

Halalbihalal mendorong manusia untuk hidup rukun. Tak ada manusia sempurna, dan justru karena itu bisa saling meneguhkan untuk kembali berjuang menjadi manusia yang lebih sempurna, dalam hal ini menjadi bangsa yang semakin dewasa.

Halalbihalal adalah simbol persaudaraan antar manusia yang harkat dan martabatnya sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Halalbihalal adalah lambang kodrat manusia untuk mengarungi kehidupan di dunia dan mempersiapkan dunia akhirat.

Halalbihalal adalah senjata ampuh untuk mengikis sifat egoisme dan sikap primordial atau hanya mementingkan kelompoknya saja. Dengan demikian, halalbihalal juga menjadi ruang untuk mengembalikan kodrat kemanusiaan.

Pemilu terbukti menimbulkan gesekan sosial. Gesekan sosial menimbulkan unsur kebencian. Rasa benci membuat orang cenderung bertindak secara tidak objektif. Unsur benci bisa membuat bangsa Indonsia tercabik-cabik.

Pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto selaku Capres dalam Pilpres 2019 melalui Halalbihalal akan sangat penting dampaknya bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka berdua adalah dua “menara suar” yang bisa menerangi dan mengarahkan rakyat Indonesia.

Bila rakyat sebelumnya terpolarisasi menjadi dua kekuatan berbeda pilihan, kini saatnya kembali bersatu sebagai Indonesia yang bersatu padu menyonsong masa depan.

Halalbihalal tidak akan menegasi sidang gugatan sengketa Pilpres yang digelar MK. Halalbihalal adalah entitas yang berbeda dengan persoalan gugatan hukum.

Lagipula, MK adalah lembaga independen. Anggota MK dipastikan akan mampu menyelesaikan perselisihan hukum terkait Pilpres secara adil dan konstitusional.

Sementara MK bersidang, alangkah baiknya digelar Halalbihalal yang mempertemukan Jokowi dan Prabowo. Keduanya adalah simbul bersatunya seluruh rakyat Indonesia.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?