• News

  • Editor's Note

Solusi Kisruh, Cueki Prabowo atau Pilih Layani Habib Rizieq?

Prabowo Subianto dan Habib Rizieq Shihab
dok.gelora
Prabowo Subianto dan Habib Rizieq Shihab

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -- Perbincangan seputar politik terkini, serba diwarnai dengan perdebatan tentang rekonsiliasi pascapemilu 2019. Konon, pihak kubu 02 Prabowo-Sandi mensyaratkan rekonsiliasi dengan kubu 01 Jokowi-Ma’ruf dengan memulangkan Al Habib Muhammad Rizieq Shihab ke tanah air.

Hal ini salah satunya dikemukakan oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Ia membenarkan bahwa pihaknya mengajukan pemulangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Tanah Air sebagai syarat rekonsiliasi pasca-Pilpres 2019.

Tak hanya itu, Muzani juga meminta agar pemerintah membebaskan tokoh-tokoh  pendukung Prabowo-Sandi yang ditangkap karena terjerat kasus hukum.

"Ya keseluruhan (pemulangan Rizieq Shihab), bukan hanya itu. Tapi keseluruhan bukan hanya itu. Kemarin kan banyak ditahan ratusan orang. Lagi diproses-proses. Ya, segala macamlah ya," ujar Muzani kepada wartawan di Jakarta, hari Selasa lalu (9/7/2019).

Tentu saja, para pendukung Rizieq memberikan dukungan dan penghormatan kepada tokoh yang dianggap menjadi penentu dalam aksi massa 212. Sementara bagi pendukung kubu 01, memandang syarat rekonsiliasi sebagai hal lucu.

Bagi pendukung 01, mengabaikan (mencueki) tuntutan Prabowo-Sandi beserta pendukungnya agar memulangkan Rizieq Shihab Arab adalah lebih baik. Rakyat Indonesia jauh lebih damai ketimbang jika ia berada di Indonesia. Dalam hal ini, hukum secara tegas juga tetap bisa diberlakukan.

Namun jika syarat rekonsiliasi yakni pemulangan Rizieq Shihab beserta melupakan atau mengabaikan kasus-kasus hukum terkait yang bersangkutan, maka dimulailah babak baru dimana pemerintah Jokowi memberikan kelonggaran bagi penegakkan hukum.

Akan menjadi preseden buruk, jika pemerintah Jokowi justru memelopori hukum tunduk pada lobi politik dan tekanan massa. Hal ini akan dicatat sebagai cacat dan citra buruk bagi pemerintahannya di masa mendatang.

Seperti telah diberitakan di berbagai media, kasus Habib Rizieq bermasalah bukan hanya karena terkait tuduhan kriminalisasi tetapi  juga karena masalah terlilit aturan overstay yang berlaku di Arab Saudi.

Konon, menurut Duta Besar Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, hal itu menjadi salah satu problem mendasar mengapa Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) belum bisa pulang ke Indonesia.

Pihaknya pun sebenarnya tidak pernah menghalangi Rizieq Shihab pulang ke tanah air. Sebaliknya, KBRI justru senantiasa membantu WNI yang mengalami kesulitan.

“Status beliau ini, Al Habib Muhammad Rizieq Shihab ini overstay,” jelas Agus dalam tayangan salah satu stasiun televisi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pemerintah tidak akan tutup mata dengan kondisi Rizieq yang overstay. Meski dia mengatakan, problem overstay adalah problem yang biasa terjadi, bukan masalah besar.

Dubes Agus mengatakan, bila memang ada keinginan dari Rizieq untuk keluar dari Arab Saudi, Rizieq wajib membayar denda overstay sejak 21 Juli 2018, sekitar Rp 550 juta (bila ditambah 4 anggota keluarga Rizieq yang juga berada di sana).

Hanya saja, KBRI tidak memiliki tradisi menempuh langkah tersebut, dalam arti mengatasi masalah WNI yang terjerat denda overstay dengan menunasinya. Sebab, jika KBRI membayar denda bagi Rizieq, WNI lain yang mengalami hal sama, juga harus diberikan solusi serupa.

Sementara di mata Ketua Umum FPI Ustaz Ahmad Sobri Lubis, menganggap bahwa pembayaran denda seharusnya menjadi tanggungan pemerintah Indonesia. Ini lantaran pemerintah telah melakukan pencekalan terhadap Habib Rizieq sejak dua tahun lalu.

"Dia (Habib Rizieq) di saat sudah dicekal tetap usahakan keluar (dari Arab) dengan datang ke instansi-instansi terkait menanyakan apa sebab dicekal. Semuanya nggak bisa jawab," jelasnya seperti dikutip pojoksatu.com hari Rabu malam (10/7/2019).

Sobri berkesimpulan bahwa pencekalan tersebut adalah pesanan. Ada orang yang takut Rizieq Shihab kembali ke tanah air sehingga memesan pencekalan.

Reporter : taat ujianto
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya