• News

  • Editor's Note

Tak Penting Sebut yang Jebloskan Menyesal, Ahok Sebaiknya Fokus Berkarya

Foto Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang meninjau MRT
Instagram/basukibtp
Foto Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang meninjau MRT

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Walaupun publik belum tahu bagaimana masa depannya, namun nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlanjur kembali riuh rendah dan disebut-sebut meramaikan bursa calon pejabat publik di era pemerintahan Jokowi-Ma’ruf untuk 5 tahun mendatang.

Warganet dapat menyapa Ahok secara langsung melalui akun Istagram dan Twitter. Bahkan baru-baru ini, Ahok juga secara khsusus mempublikasikan vlog terbarunya yang diposting di akun Youtube "Panggil Saya BTP". Vlog itu ternyata langsung viral.

Dalam vlog tersebut, Ahok mengisahkan kehidupan selama di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, hingga ia kemudian bisa kembali menghirup udara kebebasan.

"Waktu awal masuk saya juga gak boleh lari-lari keluar, Mako Brimo 60 hektar, kenapa? Kalau napi lain boleh asal jangan keluar pagar, saya gak boleh, " kata Ahok dalam “BTP Menjawab” yang diunggah di Youtube.

Ia pun menjelaskan alasan mengapa ia tidak boleh keluar pagar. "Nanti orang kira Ahok mah ngak dikurung di dalam, saya gak boleh keluar, " katanya.

Selama 20 setengah bulan, Ahok mengaku tidak pernah tahu aspal di depan Mako Brimob. Sementara sehari-harinya, ia rutin berjemur dari balik tembok.

"Saya cuma tahu tembok, jemur, di balik tembok matahari setengah 8 dia (matahari) naik, " tutur Ahok.

Kehidupan penjara tentu saja tidak mengenakkan. Butuh fisik dan psikologis yang kuat agar mampu melewati masa-masa menjadi tahanan. Ia pun mengisahkan pengalaman spiritualnya.

"Kalau kita gunakan perspektif kita yang salah jatuh satu tingkat mengasihani diri langsung depresi, tapi kalau kita melihat dengan kacamata Allah, kita tahu Allah izin kan ini terjadi pada hidup kita, kita tahu kesulitan yang kita hadapi bukan untuk menjatuhkan tapi mempromosikan kita," kata Ahok.

Akibat dipenjara, ia merasa namanya justru menjadi lebih terkenal dibanding melalui kampanye.

"Aku lebih ngetop dipenjara, betul gak ? kalau mau pakai uang Rp 2 triliun untuk kampanye gak dapat tuh, seluruh dunia saya bisa kena, karena syok semua orang gubernur aktif seperti itu," katanya seperti ditulis Tribunnews.com.

Ahok suatu ketika ditanya polisi di Mako Brimob, seandainya waktu bisa diputar ulang, Ahok pilih bisa menjadi Gubernur lagi atau memilih tetap di Mako Brimob. Jawabannya pun cukup logis.

Ahok memilih tetap menjadi tahanan di Mako Brimob lengkap dengan alasannya. Menjadi tahanan, membuatnya belajar untuk bisa semakin menguasai dirinya.

"Kalau saya jadi gubernur lagi saya hanya menguasai Balaikota 5 tahun lagi, tapi ketika saya di Mako Brimob saya terpaksa belajar menguasai diri saya seumur hidup, bagi saya jauh lebih beruntung, makanya saya bilang yang kurung saya tempo hari itu nyesel aja," tuturnya.

Ia masih menambahkan bahwa bisa jadi, walaupun dipenjara, ia tetap kuat kemungkinan akan membuat orang-orang yang mendukung proses penahanannya menyesal.

"Tau tambah sehat nyesel, lho, mereka pikir saya akan depresi kan. Tentu Tuhan tolong, mereka harapin saya benturin kepala ke tembok, saya pikir saya mati digotong keluar pasti mereka bilang bukan mayat Ahok, udah dikubur pun, bukan kubur Ahok, Ahoknya di Hongkong, udah mati digituin lagi, keki lu. Lebih baik kita sehat kan kalau kaya gitu, ngapain kita mesti bodoh gitu, mati," tambahnya.

Sementara itu, ketika menanggapi soal kemungkinan menjadi pejabat lagi, Ahok mengaku sudah berinvestasi banyak di politik sampai dia dipenjara.

Hal ini diampaikan saat Ahok menjadi pembicara di Gereja Reformed Injili Indonesia, Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (12/7/2019) lalu, seperti dilansir Detik.com.

"Saya ini invest di politik ini sudah terlalu banyak sampai dipenjara. Nah itu yang jadi pergumulan saya, sehingga share dengan beberapa teman," ujarnya.

Keluar dari penjara, Ahok mengaku menerima banyak penawaran dengan gaji berstandar internasional.

"Jadi beberapa orang yang tidak ada hubungannya, teman-teman lama, waktu saya jadi gubernur jarang ketemu saya. Sekarang nawarin kerja sama mereka. Nawarin kerja kasih saham kosong, macam-macam nanti. Dari gaji yang lumayan sampai waw banget. Standarnya sudah standar dunia," ujarnya.

Hanya saja, Ahok mengaku memiliki panggilan yang berbeda. Selama di tahanan, ia berusaha merenungkan nasibnya dan menyimpulkan dirinya tidak cocok menjadi pengusaha.

"Saya katakan lagi dari mana saya tahu melakukan A atau B atau C. Firman Tuhan, iluminasi dari firman Tuhan yang saya baca. Sampai hari ini dalam pergumulan saya. Saya tetap tidak ada panggilan jadi pengusaha, tugas saya adalah showcase, mercusuar untuk mempertontonkan kuasa Tuhan, untuk menarik orang untuk mengenal Tuhan kita. itu yang saya dapat," ujarnya.

Ahok mengaku berusaha mengikuti iluminasi Firman Tuhan (kehendak Tuhan) sehingga ia cenderung tidak menerima tawaran kerja sebagai pengusaha. Ia merasa tahu harus ke mana walau tidak ia sebutkan secara gamblang.

"Saya pun bergumul dengan hal ini, tapi kalau saya ikutin iluminasi firman Tuhan yang saya baca, tidak ada terima job ini. Saya tahu saya harus ke mana," sambungnya.

Alangkah baiknya, Ahok fokus untuk mempersiapkan karya baru setelah bebas dari tahanan. Rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin dan pelayan publik yang mampu bekerja nyata, menciptakan gebrakan, dan terobosan baru untuk memajukan bangsa.

Dalam hal ini, Ahok sebaiknya belajar mengurangi pernyataan-pernyataan yang tidak perlu. Bila itu dilakukan, niscaya namanya akan makin besar. Karya dan gebrakan Ahok sudah ditunggu-tunggu, khususnya para pengagumnya. Jangan sampai mereka kecewa.  

Editor : Taat Ujianto