• News

  • Editor's Note

Menanti Politik Dinasti Jokowi Usai Gibran-Kaesang Masuk Bursa Wali Kota Solo

Presiden Jokowi bersama keluarga
foto: wikipedia
Presiden Jokowi bersama keluarga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Berbagai media massa memberitakan bahwa nama-nama putra Presiden Joko Widodo, yakni Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep masuk dalam bursa Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Solo 2019.

Terhadap hasil survei tersebut, Gibran memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada warga Solo.

"Sangat mengapresiasi, terima kasih sekali untuk warga Solo yang memberi penilaian positif kepada saya," kata Gibran, Sabtu (27/7/2019), sambil menyebutkan bahwa dirinya mengaku sedang fokus berbisnis. Pernyataan serupa juga diucapkan adiknya, Kaesang Pangarep.

"Kalau temen-temen media lihat di sosmed saya, Instagram, Twitter, saya dan Kaesang masih melakukan aktivitas yang saya lakoni seperti biasa. Masih fokus menjalani bisnis. Fokus ekspansi bisnis," ujarnya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo menunjukkan bahwa Gibran-Kaesang masuk empat besar dari sepuluh kandidat tokoh Solo yang memiliki popularitas dan penerimaan tinggi.

Survei tersebut dilakukan terhadap 766 responden dengan margin error empat persen.
Teknik pengumpulan data wawancara face to face dengan instrumen data kusioner tertutup dan alat peraga.

Berdasarkan political personal, empat tokoh memiliki popularitas tinggi, yakni Gibran dan Achmad Purnomo (Wakil Wali Kota Solo) masing masing mencapai 90 persen disusul Kaesang sebesar 86 persen, dan Teguh (Ketua DPRD Solo) 49 persen.

Nama lainnya yang muncul adalah Gus Karim (ulama) 25 persen, Gareng S Haryanto (Ketua Kadin Solo) 21 persen.

Sementara, Her Suprabu (eks ketua tim kampanye daerah Solo, Jokowi-Ma’ruf sekaligus pengusaha), dan professor Ravik Karsidi (mantan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo) masing masing 18 persen

Terhadap hasil survei tersebut, Preside Joko Widodo juga telah memberikan tanggapannya. Ia mengaku senang mengetahui kedua putranya Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep masuk dalam bursa wali kota Solo.

"Ya tadi malam saya baca, surveinya saya baca, ya saya senang saja," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di restoran Seribu Rasa Jakarta, Jumat (26/7/2019).

"Mereka ini anak-anak mandiri, mau bisnis ya silakan, mau jualan pisang silakan, jualan martabak silakan, tanyakan saja ke anaknya langsung," ungkap Jokowi.

"Orang tua tuh bisanya hanya itu. Kalau sudah diputuskan anak-anak, ya apapun. Jualan pisang saya dukung jualan martabak saya dukung," tambah Jokowi singkat.

Kini publik tinggal menanti, bagaimana kelanjutkannya di masa-masa mendatang. Apakah seperti yang sudah-sudah bahwa setiap politikus juga akan melahirkan politikus. Secara lebih eksplisit apakah suatu penguasa memang cenderung akan melahirkan "politik dinasti".

Dinasti politik dalam hal ini adalah dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga.

Dalam sistem hukum di Indonesia seperti diatur dalam UU No 1/2015 tentang Perppu No 1/2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi undang-undang, dinasti politik tidak dilarang.

Berdasar kajian Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review terkait persoalan tersebut beberapa tahun lalu, disebutkan bahwa aturan pembatasan "dinasti politik" inkonstitusional.
 
Menurut MK, pasal tersebut merupakan aturan diskriminatif karena membatasi hak berpolitik warga negara.

Masih menurut MK, persoalan dinasti politik bukan terletak pada aturan pembatasan, melainkan belum efektifnya pengawasan dalam penyelenggaraan pilkada khususnya yang melibatkan petahana. 

Akan tetapi, di manapun dan kapan pun, anggota keluarga petahana yang ikut bertarung dalam pemilu memang cenderung akan melahirkan praktik ketidakadilan.

Dalam hal ini, demokrasi rentan dicederai karena prinsip kesetaraan hak politik warga negara sulit diberlakukan dan rentan koruptif.

Era kerajaan, hal seperti itu adalah biasa. Namun, era kerajaan berakhir, politik semacam itu ternyata tidak ikut musnah. Dorongan untuk mewariskan kekuasaan secara turun temurun dari ayah kepada anaknya agar kekuasaan masih berada di lingkaran keluarga seolah seperti kodrat bawaan.

Dalam konteks ini, apakah Presiden Jokowi juga akan melancarkan politik dinasti? Akan kita saksikan usai nama anak-anaknya masuk bursa Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Solo 2019.

Editor : Taat Ujianto