• News

  • Editor's Note

Selain di TMP Kalibata, Bunga Bertaburan di Pusara Anonim

Presiden Joko Widodo memimpin upacara apel kehormatan dan renungan suci di TMP Kalibata
foto: polkam.go
Presiden Joko Widodo memimpin upacara apel kehormatan dan renungan suci di TMP Kalibata

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sudah tepat bila orang nomer satu di negeri ini memberikan penghormatan kepada seluruh pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di hari HUT RI.

Hal ini terlihat secara simbolik melalui acara khusus yang dipimpin Presiden Joko Widodo saat memimpin apel kehormatan dan renungan suci di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jumat (17/8/2019), tepat pukul 00.00 WIB.

Apel yang digelar sebagai rangkaian peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tersebut berlangsung dengan khidmat. Acara ini bagian dari prosesi memperingati malam bersejarah sebelum detik-detik proklamasi.

Presiden Joko Widodo selaku inspektur upacara didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, memberikan penghormatan kepada para pahlawan dari seluruh pelosok Indonesia.

Turut hadir dalam upacara ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla serta para menteri anggota Kabinet Kerja, Panglima TNI dan Kapolri.

"Kami menyatakan hormat atas keridhoan dan keikhlasan para pahlawan demi perjuangan bangsa," kata Presiden ketika membacakan renungan.

Presiden menyebut terdapat 10.026 jenazah para pahlawan yang dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Nasional Utama Kalibata, termasuk para pejuang, tokoh nasional, dan pejuang tidak dikenal.

Pada renungan suci tersebut, Presiden juga sempat menyebut pahlawan-pahlawan lain yang gugur dan dimakamkan di berbagai kota, dusun, lereng gunung, lembah ngarai, hingga dasar laut.

Presiden memimpin hening cipta untuk mengenang arwah para pahlawan, dilanjutkan penghormatan yang dipimpin komandan upacara Kolonel Inf Slamet Riadi. Renungan kemudian ditutup doa yang dipimpin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy.

Di TMP Kalibata tak hanya pahlawan di pihak RI

Presiden Jokowi menyebut bahwa ada banyak pahlawan lain yang tidak berada di TMP Kalibata dan pusara mereka tersebar di seluruh Nusantara. Bahkan tak sedikit mereka yang ikut berjasa tak memiliki pusara karena memang jasadnya tak pernah ditemukan.

Jangan salah pula, di TMP Kalibata saja, tidak hanya berisi korban perang (pahlawan) di pihak RI. Ada ribuan sukarelawan Jepang dan pasukan Belanda juga dimakamkan di tempat ini.

Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi pernah berziarah di TMP Kalibata tanggal 13 Januari 2002 untuk memberikan penghormatan pada para Tentara Kekaisaran Jepang yang dikuburkan di TMP Kalibata.

Sedangkan di pihak RI, tak kurang 7.000 orang korban militer dan veteran dari Perang Kemerdekaan Indonesia dimakamkan di tempat ini. Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di TMP Kalibata antara lain:Adam Malik, Agus Salim, Sutan Syahrir, hingga Taufiq Kiemas (Suami Megawati Soekarnoputri).

Pahlawan Anonim

Sementara itu, tak terbilang pahlawan dan korbang perang lain yang gugur selama Proklamasi hingga Indonesia berdaulat. Perang selalu meninggalkan tragedi dan mereka yang gugur tak pernah tercatat sebagai pahlawan jumlahnya tak terbilang karena saking banyaknya.

Ambil contoh misalnya dalam peristiwa Bekasi Lautan Api. Pada tanggal, 29 Nopember 1945, tentara Sekutu menggempur para pejuang Bekasi dengan tank dan artileri.

Mula-mula Klender jatuh kemudian mereka merangsek ke daerah Warung Arning, Pondok Gede, Pondok Pucung, Rawa Bening, Rawa Bebek, kampung-kampung sekitar Cakung, dan Marunda.

Dalam pertempuran ini, pasukan Sektu terbukti telah melanggar kesepakatan tentang adanya garis demarkasi yang tidak boleh dilalui. Bekasi adalah wilayah RI.

Penyerangan pasukan Sekutu dipicu karena 26 pasukan Inggris disandera pejuang Bekasi setelah pesawat Dakota yang mereka tumpangi jatuh di persawahan Rawa Gatel. Sekutui kecewa dan marah ketika tahu seluruh tawanan itu dibunuh pejuang RI.

Mereka melampiaskan kekecewaan dengan membakar rumah-rumah penduduk dan membombardir kota Bekasi. Sekitar 25 pejuang RI gugur dalam pertempuran dan 50 rakyat sipil tewas akibat pengeboman pasukan Sekutu.

Sekitar 3.379 orang kehilangan tempat tinggal akibat serangan tersebut dan puluhan orang mengalami luka akibat tembakan dan bom.

Contah lainnya adalah tragedi di Tangerang dimana massa prokemerdekaan membabi-buta dan menghancurkan permukiman etnis Tionghoa.

Dalam catatan Sin Po, 5 Juni 1946, diberitakan laporan bahwa di Tangerang telah terjadi 28 kali pembakaran rumah-rumah orang Tionghoa sementara penghuninya dibakar hidup-hidup.

Bisa dibayangkan bagaimana air mata membanjiri Tangerang di masa itu. Bisa dibayangkan pula bagaimana panik dan stresnya warga Tionghoa di daerah itu. Mereka yang selamat dan menjadi saksi atas berbagai kekejaman tersebut dipastikan akan mengingatnya sebagai kenangan pilu yang  tak mungkin bisa dilupakan.

Dalam laporan yang diterima Palang Merah Jang Seng Ie Jakarta, warga Tionghoa yang dibunuh di Tangerang dan sekitarnya mencapai sekitar 653 orang. Jumlah keseluruhan tersebut termasuk  136 perempuan dan 36 anak-anak.

Untuk rumah yang dibakar mencapai sekitar 1.268 rumah sedangkan 236 lainnya dirusak. Mereka yang berhasil selamat memilih mengungsi ke wilayah Jakarta. Jumlahnya mencapai sekitar 25.000 orang.

Mereka ditampung di gedung-gedung yang mendadak disulap menjadi tempat pengungsian antara lain di gedung perkumpulan Sin Ming Hui, di Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) No. 188.

Dihari Kemerdekaan RI, marilah kita berjuang untuk mencegah timbulnya perang sebab perang selalu mengakibatkan martabat manusia diinjak-injak.

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!

Editor : Taat Ujianto