• News

  • Editor's Note

Sukmawati Bandingkan Kanjeng Nabi dengan Soekarno, Apa yang Fatal?

Sukmawati Soekarnoputri
foto: bisnis.com
Sukmawati Soekarnoputri

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pernyataan Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan ayahnya Presiden pertama Soekarno, soal siapa yang berjuang untuk kemerdekaan RI, menuai kritik dan kecaman dari berbagai pihak.

Ucapan tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi bertajuk "Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme" pada Senin (11/11/2019). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019.

Awalnya, Sukmawati memaparkan soal berkembangnya nasionalisme di Indonesia pada awal abad ke-20.

Ia kemudian menyinggung pesan yang disampaikan Soekarno saat pidato di peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 1945 dalam menggelorakan semangat nasionalisme, serta bagaimana perjuangan sang ayah dan rakyat dalam melawan penjajah demi merebut kemerdekaan RI.

"Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini," demikian penggalan video yang beredar di media sosial.

Karena ucapannya itu, Sukmawati dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas tuduhan dugaan penistaan agama oleh seorang warga pada Jumat (15/11/2019) malam. Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/7393/XI/2019/PMJ/Ditreskrimum dengan dugaan penistaan agama dalam Pasal 156a KUHP.

Tak hanya itu, kegaduhan pun muncul karena banyak pihak ikut berbicara dan meyakinkan bahwa pernyataan Sukmawati sudah termasuk tindakan menista agama Islam.

Terlepas dari tuduhan atas penistaan agama, dalam konteks sejarah, pernyataannya juga bisa digolongkan sebagai tindakan fatal. Konteks membandingkan Nabi Muhammad dengan Ir Soekarno tergolong sebagai suatu anakronisme sejarah.

Kedua tokoh tidak bisa dibandingkan karena memiliki konteks zaman, tempat, dan bentuk perjuangan yang sangat berbeda. Memaksa membandingkannya jelas merupakan suatu yang tak logis, ngawur, dan tak bijaksana.

Kanjeng Nabi bukanlah sosok yang hidup di Indonesia di abad ke-20. Ia tidak bisa ditempatkan di dalam konteks perjuangan kemerdekaan. Namun, ajaran dan pengikutnya (penganut Agama Islam) jelas terbukti ikut berjuang dalam meraih kemerdekaan.

Justru, perjuangan umat Islam di era kemerdekaan diilhami oleh semangat perjuangan yang suci dan bersifat prinsip seperti yang digelorakan Sang Nabi di zamannya. Salah satunya adalah semangat perang suci, perang sabil, jihad dalam membela proklamasi kemerdekaan. 

Dalam hal ini, Sukmawati hendaknya mau belajar sejarah secara lebih cerdas.

Selain itu, Sukmawati sebaiknya lebih hati-hati mengingat sebelumnya, ia pun sempat tersandung persoalan tuduhan penistaan dalam kasus pembacaan puisi berjudul "Ibu Indonesia" pada 29 Maret 2018 lalu.

Puisi tersebut dibacakan Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, Jakarta Convention Center (JCC). Puisi Sukmawati dianggap sejumlah pihak sebagai bentuk penistaan agama.

"Aku tak tahu Syariat Islam. Yang ku tahu, sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu. Gerai tekukan rambutnya suci, sesuci kain pembungkus wujudmu."

Itulah sepenggal puisi Sukmawati Soekarnoputri yang menuai kontroversi. Karena puisi itu, Sukmawati pun dilaporkan ke polisi.

Beruntung, kasus tersebut kemudian padam setelah Sukmawati Soekarnoputri menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam se-Indonesia lewat jumpa pers pada 4 April 2018.

Dia menegaskan, "Puisi yang saya bacakan…, semata-mata adalah pandangan saya sebagai seniman dan budayawati dan murni merupakan karya sastra Indonesia."

Dia juga mengaku, "Tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan Puisi Ibu Indonesia," yang ditulisnya dan menjadi bagian dari buku kumpulan puisi ibu Indonesia pada 2006.

"Namun, karena karya sastra dari puisi 'Ibu Indonesia' ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan baik pro dan kontra khususnya di kalangan umat Islam, dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir batin kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi 'Ibu Indonesia'," sebutnya.

Apakah dalam kasus terakhir ini, ia akan kembali meminta maaf dan akan dianggap selesai? Kita akan lihat bagaimana endingnya ke depan.

Editor : Taat Ujianto