• News

  • Editor's Note

Beri Penghargaan ke Diskotik Berarti Dukung Bisnis Umbar Aurat dan Alkohol?

Diskotik Colosseum Jakarta.
foto: colosseum.id
Diskotik Colosseum Jakarta.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan memberi penghargaan Adikarya Wisata untuk diskotek Colosseum di Jakarta Barat ternyata melahirkan kegaduhan.

Penghargaan bagi diskotik Colosseum diberikan setelah dinyatakan menang di kategori jasa pariwisata diskotek yang memberi kontribusi yang baik terhadap ekonomi ibu kota.

Selain Colosseum, ada 13 jasa hiburan lain yang meraih Adikarya Wisata. Penghargaan diserahkan Deputi Gubernur DKI Bidang Pariwisata dan Budaya Dadang Solihin di Hotel JW Marriott pada Jumat, 6 Desember 2019.

"Penghargaan Adikarya Wisata itu ada 13 kategori, bukan cuma itu. Salah satunya diskotek. Yang menang Colosseum," ujar kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) DKI Alberto Ali di Balai Kota DKI beberapa hari lalu.

Alberto juga mengemukakan, meski identik dengan dunia hiburan malam, diskotek merupakan jenis usaha pariwisata yang sah merujuk ke aturan undang-undang.

"Diatur dalam undang-undang bahwa diskotek masuk salah satu tempat usaha pariwisata. Jadi tidak ada yang melarang," tutur Alberto.

Mendapat dukungan

Keputusan Gubernur Anies dipandang sebagai hal baik oleh Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) Yusuf Muhammad Martak. Ia membela keputusan Gubernyr Anies.

Menurut Yusuf, berdasarkan informasi yang ia dapat menyebutkan bahwa penghargaan tersebut sebenarnya diberikan kepada banyak perusahaan dan bukan hanya diskotek.

Program Adikarya Wisata, lanjutnya, diberikan setiap dua tahun sekali dan sudah dijalankan sejak gubernur-gubernur sebelum Anies.

“Ternyata, setelah saya dapatkan informasi yang akurat bahwa pemberian anugrah itu di berikan pada sekitar 31 perusahaan oleh dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI. Informasinya, program itu di jalankan setiap 2 tahun sekali. Dan, sudah berjalan sejak gubernur-gubernur DKI sebelum Anies Baswedan," kata Yusuf dalam keterangannya, Minggu (15/12/2019).

Berdasarkan informasi itu, Yusuf pun mengaku heran, lantaran hanya penghargaan kepada diskotek Colosseum yang dipersoalkan, sementara 30 perusahaan lainnya yang juga mendapat penghargaan tidak disorot atau dikritik.

"Tapi yang dijadikan hot issue oleh kelompok pendendam/buzzer yang masih susah move on atas kemenangan Gubernur Anies dalam Pilkada DKI, hanya satu perusahaan tempat usaha diskotek?" ujarnya.

"Sementara, bagi tempat usaha lainnya yang berjumlah 30 perusahaan terdiri dari lembaga pendidikan kejuruan, perguruan tinggi hingga BUMN, tidak dikritisi apalagi dipuji," ungkap Yusuf.

Jadi bahan ledekan

Berbeda dengan GNPF-U, Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean justru merasa lucu dengan pernyataan Yusuf Martak yang membela Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas penghargaan Adikarya Wisata kepada diskotek Colosseum.

Ferdinand pun menyindir, dengan mengatakan bahwa pembelaan Yusuf Martak itu merupakan sebuah terobosan sikap yang luar biasa sehingga layak masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).

"Wkwkwkwk horrrreeeeee...!! Ini terobosan sikap yang cukup besar dan luar biasa..!! Layak masuk rekor MURI (emoji tertawa)," tulis Ferdinand di akun Twitter-nya, Minggu (15/12/2019).

"Diskotik kotanya, Bahagia warganya..!! Mr Dan mmg top..!!" kata @FerdinandHaean2.

Pada kicauan lainnya, Ferdinand juga menyindir Yusuf Martak yang membela Anies dengan alasan diskotek Colosseum memiliki peran dalam menyerap tenaga kerja sebagai salah satu pertimbangan diberikannya penghargaan tersebut.

"Bagi Yusuf Martak GNPF, tak ada aturan yang dilanggar atas penghargaan kepada diskotik itu. ENTAH DIMANA KINI ATURAN YG MENGHARAMKAN ALKOHOL DAN UMBAR AURAT," cuit @FerdinandHaean2.

"Dengan alasan menyerap tenaga kerja, MUNGKIN pelacuran harus didukung dan penjualan alkohol tak boleh dilarang. (Emoji tertawa)," sindir Ferdinand.

Apapun pernyataan Ferdinand maupun Yusuf Martak, penghargaan terhadap bidang pariwisata merupakan suatu hal yang positif. Sementara penegakan aturan tentang hiburan malam dengan segala variannya juga penting dicermati.

Penghargaan tersebut tentu tidak berarti menghalalkan dunia malam berupa prostitusi, minum-minuman keras, dan sebagainya.

Hanya saja, kadang memang terasa ironis dan ambigu. Di satu  sisi radikal memerangi citra buruk bidang hiburan malam namun di sisi lain mengelu-elukan tempat hiburan malam sebagai penyumbang perekonomian daerah.

Editor : Taat Ujianto