• News

  • Ekonomi Makro

Liberalisasi Industri Penerbangan Tak Seimbang dengan Infrastruktur dan Kesiapan SDM

Lion Air, salah satu maskapai penerbangan yang gencar bermain di pasar low cost carrier
Kanalsatu
Lion Air, salah satu maskapai penerbangan yang gencar bermain di pasar low cost carrier

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Liberalisasi industri penerbangan, penerimaan terhadap model Low-Cost Carrier (LCC), serta pemberlakuan ASEAN Single Aviation Market telah mengakibatkan perkembangan pesat dunia penerbangan komersial Indonesia.

“Sayangnya infrastruktur dan kesiapan SDM kita tidak mampu berlari sekencang pertumbuhan yang terjadi,”ujar Manajer riset Air Power Centre of Indonesia, Jakarta dan anggota German Aviation Research Society, Bonn, Ridha Aditya Nugraha kepada Netralnews.com, Sabtu (11/11/2017) di Jakarta

Lebih lanjut Ridha mengatakan berbicara mengenai personil ATC, analisis dan banyak pemberitaan menyatakan Indonesia kekurangan ratusan bahkan hingga ribuan personil professional. 

Menurut Ridha, kondisi tersebut memang benar dan saat ini Pemerintah berupaya mempersiapkan personil ATC yang mumpuni. “Keterbatasan penyelenggara pendidikan menjadikan bidang ini sebagai potensi bisnis bagi swasta. Sah-sah saja selama sesuai dengan prosedur dan standar,”ungkapnya.

Ketua Umum IATCA (Indonesian Air Traffic Controller Association) Suwandi seperti dikutip dari sebuah situs berita mengatakan, Indonesia membutuhkan tenaga ATC yang profesional dan banyak jumlahnya. Sampai tahun 2025 mendatang, Indonesia khususnya Perum LPPNPI atau Indonesia AirNav kekurangan tenaga ATC (Air Tarffic Controller) sampai 4.000 orang.

Namun, Ridha menekankan bahwa jangan lupakan pesatnya perkembangan teknologi di belahan dunia lain. Mereka tengah mempersiapkan sistem navigasi berbasis satelit (GNSS - Global Navigation Satellite System). Di Amerika Serikat dikenal sebagai GPS (Global Positioning System) sementara Russia menamakannya GLONASS (Global Navigation Satellite Systems). Uni Eropa menamakannya Galileo dan Tiongkok menyebutnya BeiDou. India dan Jepang juga tengah mengembangkan.

Kata Ridha, rencananya, dalam sedekade mendatang, GNSS akan menjadi tulang punggung navigasi pesawat terbang pada jurisdiksi tersebut; atau jika "tulang punggung" terasa terlalu berat, minimal berperan lebih banyak.

Salah satu skenario implikasi keadaan tersebut ialah menjadikan ATC sebagai pelengkap. Jumlah ATC yang beroperasi akan berkurang, berarti merumahkan sejumlah personil ATC.

“Biaya operasional ATC memang tidak sedikit. Banyak yang ingin membuatnya lebih efisien dan teknologi satelit masa kini sudah mulai dapat menjadi solusi,”kata Ridha yang juga konsultan hukum di ibu kota Jakarta, dosen tamu untuk mata kuliah hukum udara dan ruang angkasa di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta

Dijelaskan Ridha, pada tahun 1970-an, Wieweko Soepono atau Pak Wik, telah membuktikan bahwa perkembangan teknologi mampu menjadikan konsep pesawat two-man cockpit nyata. Navigator dan flight engineer tidak dibutuhkan lagi. Airbus menyambut baik ide anak bangsa dengan memproduksi A300. 

Nyatanya sambung Ridha konsep tersebut menjadi 'standar' baru yang bertahan hingga sekarang. Memang banyak navigator dan flight engineer yang dipensiunkan dini, tetapi inilah imbas teknologi guna meningkatkan efisiensi industri penerbangan. Salah satu dampak terpenting bagi awam ialah harga tiket pesawat menjadi lebih murah; kargo juga demikian sehingga mendorong pengingkatan ekspor-impor.

Kembali ke persoalan kekurangan personil ATC menurut Ridha Pemerintah harus dapat melihat fenomena GNSS dan memosisikan kebutuhan Indonesia ketika waktu mereka tiba. Kalkulasi penyediaan personil dan pengadaan instrumen ATC seyoganya turut mempertimbangkan skenario tersebut.

“Jangan sampai kita menggelontorkan uang rakyat untuk menyekolahkan ratusan hingga ribuan personil ATC, tetapi sepuluh tahun mendatang sudah harus dipensiunkan,”tegas Ridha, yang juga tenaga ahli sekaligus pemateri di Institute of Air and Space Law Aerohelp, Saint Petersburg.

 

 

 

Editor : Farida Denura