• News

  • Ekonomi Makro

Saat Jonan Goreng Telur dengan Biogas dari WC Santri

 Menteri ESDM Ignasius Jonan saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini di Desa Areng-areng.
NU Online
Menteri ESDM Ignasius Jonan saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini di Desa Areng-areng.

JAKARTA, NNC - Ada yang unik saat Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini di Desa Areng-areng, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, akhir pekan lalu. Ketika itu, Menteri Jonan menggoreng telur mata sapi dengan menggunakan bahan bakar biogas.

Uniknya, biogas itu berasal dari olahan limbah manusia yakni dari WC Santri yang jumlahnya mencapai 3.000 santri.

Ia membuktikan bahwa limbah manusia juga dapat dijadikan sebagai sumber energi biogas, hasil olahan panasnya juga dapat digunakan untuk memasak seperti biasanya.

Menteri ESDM Ignasius Jonan meresmikan instalasi biogas skala komunal di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini di Desa Areng-areng.

Instalasi biogas komunal tersebut mengolah kotoran manusia untuk dijadikan biogas dengan desain kapasitas digester biogas sebesar 24 meter kubik yang mampu menghasilkan gas sebanyak 81 meter kubik per bulan atau setara dengan 12 tabung LPG 3 kg per bulan. Selain untuk memasak, biogas juga dapat digunakan untuk penerangan.

Pembangunan instalasi biogas komunal meliputi 50 unit WC, digester biogas dengan kapasitas 2x12 meter kubik tipe fixed dome beton, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan kapasitas 180 meter kubik, 2 unit lampu biogas dan 4 unit kompor biogas.

Biaya pembangunan instalasi biogas komunal bersumber dari APBN 2017 dan mulai beroperasi sejak bulan Oktober tahun 2017.

"APBN itu diutamakan untuk pembangunan yang berdampak langsung pada masyarakat. Harus bermanfaat langsung bagi masyarakat," kata Menteri Jonan.

Manfaat dari program biogas komunal ini antara lain menghemat biaya pengeluaran memasak, mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan impor LPG, serta mengurangi emisi gas rumah kaca.

Untuk tahap awal, pemanfaatan biogas komunal dapat mengurangi pemakaian LPG 3 kg per bulan sebanyak 3 tabung, hingga 12 tabung pada kondisi optimal, sehingga dapat menghemat pengeluaran bulanan mulai dari Rp75.000 hingga Rp300.000.

Selain penambahan pembangunan WC, juga dibangun instalasi pengolahan air limbah yang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan air limbah di lingkungan pesantren.

Sementara itu, dilansir dari laman NU Online, pengasuh PP Al Yasini, KH A Mujib Imron mengatakan pembangunan biogas komunal tersebut sangat besar manfaatnya bagi santri. "Saya sampaikan terima kasih pada Pak Menteri. Bantuan ini sangat bermanfaat. Bayangkan di sini ada 3.000 santri, dengan penambahan 50 WC mereka jadi tak terlambat masuk sekolah," katanya.

"Terima kasih. Limbah (tinja) jenengan (kamu) semua setiap hari bisa jadi sumber energi terbarukan," ungkap Kiai Mujib merujuk pada ribuan santrinya yang ikut menyambut Jonan hadir di Pesantren Al Yasini.

Editor : Lince Eppang