• News

  • Ekonomi Makro

Rupiah Melemah, Distributor Bidang Konstruksi Tetap Optimistis

PT ASS masih optimistis meski Rupiah sedang melemah
Istimewa
PT ASS masih optimistis meski Rupiah sedang melemah

JAKARTA, NNC - Pembangunan infrastruktur yang tengah dipacu pemerintah memberi dampak positif tidak hanya bagi masyarakat umum melainkan juga bagi para pelaku usaha. 

PT Adi Satya Sentosa (ASS) perusahaan yang bergerak di sektor konstruksi khususnya penyedia alat berat untuk memproses pasir bangunan turut merasakan dampak positif tersebut.

ASS telah ditunjuk menjadi agen tunggal untuk produk CDE sand washing plant. Direktur PT ASS, Budi Andika menjelaskan, produk sand washing telah sukses membawa inovasi dan solusi untuk bidang sand & aggregates (pasir dan agregasi). 

“Mengingat perkembangan sektor infrastruktur yang sedang digalakkan pemerintah, kami hadir untuk menunjang bidang konstruksi berupa alternatif penyedia  pasir atau biasa disebut M-Sand atau manufacture sand,” jelas Budi Andika di Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Ia menjelaskan, pada pertengahan tahun 2016 dan 2017, perusahaan telah memperoleh pesanan dari perusahaan-perusahaan tambang batu dan tambang pasir besar. 

“Tahun ini kami sudah melakukan instalasi dan commissioning CDE Sand Washing Plant di CV Jati Kencana di Semarang, PT Lotus SG Lestari di Rumpin-Bogor, PT Rekadaya Sarana Mukti di Subang-Bandung,” katanya.

Menurutnya, pasar di Indonesia masih sangat besar dengan kebutuhan 80 juta ton semen dalam setahun maka kebutuhan pasir pun tiga kali lipat dari jumlah tersebut. 

“Jadi sekitar 200 juta kebutuhan pasir di indonesia. Sedangkan pasir ada standar berdasarkan SNI terkait kualitas. Kita berikan solusi tentang masalah pasir yang dihadapi oleh perusahaan tambang batu, tambang pasir, batching plant,” jelasnya. 

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Budi mengungkapkan bahwa memang terjadi sedikit perlambatan permintaan. Karena, harga untuk satu CDE sand washing plant berkisar antara US$ 300 ribu hingga US$680 ribu.

“Pelemahan cukup berpengaruh banyak perusahaan, jadi masih menunggu mereka. Tapi tetap ada permintaan karena kebutuhan pasir,” imbuhnya.

 

Reporter : Irawan Hadi Prayitno
Editor : Firman Qusnulyakin