• News

  • Ekonomi Makro

Periode Juni 2019: Harga Referensi CPO Turun, BK CPO Nol dan Biji Kakao 5 persen

Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah USD 750/MT.
Info Sawit
Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah USD 750/MT.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Harga referensi produk Crude Palm Oil (CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) periode Juni 2019 adalah US$ 547,17/MT. Harga referensi tersebut melemah US$ 4,56 persen atau 26,14 dari periode Mei 2019 yang tercatat sebesar US$ 573,31/MT. Penetapan ini tercantum dalam Peraturan

Menteri Perdagangan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

“Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah US$ 750/MT. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$ 0/MT untuk periode Juni 2019,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan, dalam siaran persnya, Kamis (30/5/2019).

BK CPO untuk Juni 2019 tercantum pada Kolom 1 Lampiran II Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017 sebesar US$ 0/MT. Nilai tersebut sama dengan BK CPO untuk periode Mei 2019 sebesar US$ 0/MT.

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada Juni 2019 sebesar USD 2.327,27/MT turun 0,03 persen atau USD 0,78 atau dari bulan sebelumnya yaitu sebesar US$2.328,05/MT. Hal ini berdampak pada pelemahan HPE biji kakao pada Juni 2019 menjadi US$ 2.044/MT, turun 0,04 persen atau US$ 1 dari periode sebelumnya yaitu sebesar US$2.045/MT.

Penurunan harga referensi dan HPE biji kakao disebabkan melemahnya harga internasional. Penurunan ini tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap 5 persen. Hal tersebut tercantum pada kolom 2 Lampiran II Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017.

Sedangkan untuk HPE dan BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya. BK produk kayu dan produk kulit tercantum pada Lampiran II Huruf A Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017.

Editor : Sulha Handayani