• News

  • Ekonomi Makro

Aplikasi Munculkan Harga Tiket Pesawat Mahal dan Tak Masuk Akal, Ini Penjelasannya

Ilustrasi pesawat penumpang.
99acres.com
Ilustrasi pesawat penumpang.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Masyarakat sempat dihebohkan harga tiket pesawat di aplikasi pemesanan tiket yang jauh lebih mahal dibanding harga normal, dan cenderung tak masuk akal.

Misalnya, untuk rute Bandung-Medan atau Jakarta-Makassar pada platform aplikasi penjualan tiket seperti Traveloka.com atau Tiket.com, harga tiketnya bisa dijual 5-6 kali lipat dari tarif normal.

Kementerian Perhubungan, melalui Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta maskapai untuk mengingatkan dan menegur mitra penjual/agen untuk tidak menampilkan harga yang tidak masuk akal dan penerbangan yang dipilih harus melalui beberapa kali transit.

Lalu, mengapa harga tiket tiket yang ditampilkan aplikasi bisa semahal itu?

Dalam keterangan yang dikutip dari situs resmi Kemenhub, Jumat (31/5/2019) diterangkan bahwa harga tiket tak masuk akal di aplikasi bukanlah tiket penerbangan langsung sesuai tujuan.

Sebagai contoh, rute Bandung tujuan Medan, tiket yang ditawarkan adalah melalui transit Denpasar dan Jakarta, baru terbang ke Medan.

Bahkan, rute Jakarta-Makassar ditampilkan pilihan penerbangan yang harus transit melalui Jayapura, baru terbang lagi ke barat dari Jayapura ke Makassar.  Mengapa rute yang dipilih calon penumpang bisa menjadi seperti itu?

Itu karena platform aplikasi penjualan tiket menawarkan pilihan sesuai dengan rute dan tanggal yang sudah dipilih oleh konsumen atau calon penumpang.

Jadi, setelah calon penumpang memilih rute dan tanggal, mesin aplikasi akan mencarikan semua jadwal penerbangan yang tersedia untuk rute tersebut pada tanggal yang telah dipilih.

Aplikasi kemudian akan memfilter jadwal yang masih tersedia, lalu menampilkannya di layar aplikasi pelanggan.

Di layar, pelanggan bisa mengurutkan berdasarkan harga yang ditawarkan, termasuk memfilter jenis-jenis maskapai tertentu.

Karena berbasis mesin algoritma, maka aplikasi akan menyediakan semua pilihan yang tersedia, termasuk apabila rute penerbangannya harus transit melalui bandara-bandara tertentu.

Nah, pada musim-musim ramai seperti liburan Lebaran, penerbangan langsung untuk tanggal-tanggal favorit biasanya sudah tidak tersedia.

Calon penumpang yang membeli di waktu yang mepet dengan tanggal keberangkatan, akan disodori pilihan penerbangan yang masih tersisa, termasuk apabila harus transit.

Pencarian rute yang dipilih calon konsumen tentu saja menggunakan mesin. Mesin akan memasukkan harga tiket sesuai dengan rute penerbangan yang masih tersedia, sehingga apabila diakumulasi harganya menjadi berlipat-lipat dibandingkan dengan penerbangan langsung.

Dalam peraturan di industri penerbangan, penumpang akan dibebani biaya tambahan seperti pajak iuran wajib asuransi, dan Passanger service charge ( PSC) untuk penerbangan ke setiap titik. Jadi, apabila rute yang dipilih konsumen harus transit di 2 bandara, maka ia akan dikenai tambahan biaya sebanyak 3 kali, yakni biaya di bandara keberangkatan dan dua bandara transit.

Lalu, bagaimana mungkin rute Jakarta-Makassar ditawarkan harus transit ke Jayapura terlebih dahulu? Atau untuk terbang dari Bandung ke Medan, calon penumpang harus terbang ke Denpasar terlebih dahulu?

Berdasarkan mesin yang ada dalam aplikasi layanan online, penerbangan untuk jadwal yang dipilih calon penumpang pada tanggal tersebut, tinggal itulah satu-satunya pilihan yang tersedia, sedangkan pilihan penerbangan yang langsung sudah diambil oleh penumpang lain jauh-jauh hari sebelumnya.

Dengan cara bekerja mesin layanan seperti itu, maka aplikasi akan memunculkan semua kemungkinan yang masih tersedia untuk jadwal penerbangan yang diinginkan konsumen.

Oleh karena itu, harganya menjadi tidak masuk akal, karena diakumulasi dari setiap penerbangan dari titik keberangkatan ke titik transit pertama, transit kedua, dan seterusnya, sampai dengan titik akhir penerbangan.

Editor : Irawan.H.P