• News

  • Ekonomi Makro

Akademisi: PLN Punya Kapasitas Topang Kebutuhan Listrik Industri

 Akademisi: PLN punya kapasitas topang kebutuhan listrik industri.
PLN
Akademisi: PLN punya kapasitas topang kebutuhan listrik industri.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT-UI), Iwa Garniwa Mulyana menilai, ketenagalistrikan merupakan infrastruktur penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mendorong investasi serta pemerataan industri.

"Kestabilan pasokan listrik menjadi kunci pertumbuhan industri modern yang akan memacu peningkatan perekonomian nasional," ucap Iwa dalam keterangan persnya yang disampaikan melalui surat elektronik, Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Dia menyatakan, sejauh ini PT PLN (Persero) dianggap telah memiliki kapasaitas dan kesiapan untuk memenuhi kebutuhan listrik sektor perindustrian. "Pemerintah seyogyanya mensinkronkan rencana industrial dengan kapasitas pasokan listrik yang sudah disiapkan PLN," tegas Iwa.

Iwa menjelaskan, kesiapan PLN dalam menjaga kelangsungan industri telah tercermin pada upaya BUMN ini dalam memastikan kesiapan pasokan listrik di sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri (KI) dan pelanggan-pelanggan besar lain.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027, total daya yang dipasok PLN untuk pelanggan besar adalah 22.461 Mega Volt Ampere (MVA), sedangkan pelanggan yang sudah tersambung hingga Oktober 2018 sebesar 810 MVA..

Secara umum, Iwa menilai bahwa kesiapan infrastuktur PLN sudah mencukupi untuk pemenuhan pasokan listrik industri modern, meski ada fakta bahwa pertumbuhan industri nasional tidak sesuai harapan.

Pada RUPTL PLN 2019-2028 yang dipaparkan Menteri ESDM , Ignasius Jonan pada Januari lalu, penambahan infrastruktur ketenagalistrikan yang direncanakan hingga 2028, yakni pembangkit tenaga listrik 56.395 MW, jaringan transmisi sepanjang 57.293 kilometer sirkit (kms), gardu induk 124.341 MVA, jaringan distribusi sepanjang 472.795 kms dan gardu distribusi 33.730 MVA.

Untuk mencapai target tersebut, kata Iwa, PLN telah mewujudkan sistem tenaga listrik Jawa-Bali (SJB) sebagai sistem interkoneksi terbesar di Indonesia. Sesuai data statistik ketenagalistrikan 2017, saat ini di Jawa dan Bali terdapat 331 pembangkit yang masuk ke dalam sistem interkoneksi dengan kapasitas pembangkit 37.600 MW.

Program 35.000 MegaWatt (MW) yang tengah dikerjakan merupakan upaya pemerintah dalam menopang pertumbuhan ekonomi, seperti mendorong munculnya pusat-pusat industri baru. Bagi PLN, program 35.000 MW bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan pasokan daya di daerah-daerah yang defisit listrik.

Perlu diketahui, hingga akhir 2018 pelaksanaan program 35.000 MW sudah mencapai tahap 8 persen Commercial Operation Date (COD,) 89 persen memasuki tahap committed & on going serta dan 3 persen perencanaan. Rinciannya, COD/Komisioning 1.009 MW, konstruksi 20.416 MW, PPA belum konstruksi 9.507 MW, pengadaan 1.383 MW dan perencanaan 954 MW.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM , pembangkit listrik di Indonesia berjumlah 5.400 MW dengan kapasitas terpasang hingga akhir 2018 mencapai 62.904,54 MW. Angka itu merupakan akumulasi dari berbagai jenis pembangkit listrik, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ), Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ), Pembangkit Listrik Tenaga Gas( PLTG ), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( PLTP ), Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS ) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin ( PLTB ).

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?