• News

  • Ekonomi Makro

Sentimen Negatif Penyerangan Kilang Minyak Saudi Aramco, Hot Money Keluar, Rupiah Anjlok

Aset migas di Arab Saudi.
ndh.vn
Aset migas di Arab Saudi.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore ditutup melemah terseret peningkatan tensi di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,54 persen menjadi Rp14.042/US$ dari sebelumnya Rp13.967/US$.

"Perkembangan di Timur Tengah kembali memanas akibat salah satu kilang minyak di Arab Saudi milik Saudi Aramco diserang. Dan Iran yang dijadikan kambing hitam," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Kenaikan harga minyak membawa sentimen negatif bagi rupiah, mengingat Indonesia adalah negara net importir minyak.

Menurutnya, jika harga minyak naik, maka biaya impor migas bakal semakin mahal. Artinya akan semakin banyak devisa yang 'terbakar' untuk impor migas dan membuat tekanan di neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) meningkat.

"Saat devisa dari ekspor-impor barang dan jasa seret, maka fondasi penyokong rupiah menjadi rapuh karena bergantung kepada portofolio di sektor keuangan atau hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah," kata Ibrahim, seperti dilaporkan Antara.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp13.996/US$. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.990/US$ hingga Rp14.055/US$.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.020/US$ dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.950/US$.

Editor : Irawan.H.P