• News

  • Ekonomi Makro

BI Longgarkan KPR Jadi Stimulus Industri Properti

Ilustrasi Rumah Sederhana
Lamudi
Ilustrasi Rumah Sederhana

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Republik Indonesia kembali suku bunga acuannya yaitu BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen. 

BI juga mengeluarkan kebijakan untuk melonggarkan aturan Loan to Value ( LTV) dan Finance to Value (FTV) bagi pembiayaan kepemilikan properti, baik rumah tapak, rumah tinggal maupun rumah kantor dan rumah toko. 

Country Manager Rumah.com, Marine Novita menyambut baik adanya dua kebijakan baru dari Bank Indonesia tersebut, yang diharapkan bisa menggairahkan industri properti yang belakangan ini sedang dalam kondisi melandai.

“Adanya penurunan suku bunga BI 7 Days Repo Rate menjadi 5,25 persen dan pelonggaran aturan LTV diharapkan bisa menjadi stimulus bagi industri properti di Indonesia terutama dalam penyaluran KPR bagi konsumen yang akan membeli hunian. Dengan kebijakan tersebut, bank memiliki keleluasaan untuk mengambil risiko dalam menyalurkan kredit dan memberikan batas minimum uang muka (down payment) KPR juga akan bisa lebih ringan,” jelas Marine, Minggu (29/8/2019).

Landainya industri properti di tanah air juga tercermin dari Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019 dimana kepuasan secara umum terhadap iklim industri properti Indonesia sedang menurun. Iklim industri properti di tanah air saat ini tercatat meraih skor 31 persen, menurun dari skor 34 persen pada semester sebelumnya. 

Rumah.com Property Affordability Sentiment Index ini adalah survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Hasil survei kali ini diperoleh berdasarkan 952 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada bulan Januari hingga Juni 2019. 

Survei ini dilakukan oleh Rumah.com sebagai portal properti terdepan di Indonesia untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di tanah air.

Tingkat kepuasan terhadap industri properti Indonesia yang sedang menurun ini, menurut hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index disebabkan oleh value yang didapat antara properti yang ditawarkan dengan harga yang diminta semakin dianggap tidak wajar dan tidak senilai uangnya (worth the money). 

Selain itu juga semakin banyak responden yang menganggap bahwa properti yang ditawarkan saat ini tidak menarik, sementara harganya terlalu tinggi.

Menurut Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019, selain suku bunga yang tinggi, ketidakpuasan konsumen terhadap iklim properti di Indonesia juga disebabkan oleh harga properti yang mahal atau malah overpriced (menurut 82 persen responden), harga properti yang terus meningkat (menurut 65 persen responden), kondisi ekonomi yang belum begitu baik (menurut 53 persen responden) dan keterbatasan pilihan pembiayaan yang bagus (menurut 37 persen responden). 

Marine menjelaskan bahwa harga properti yang mahal dan terus meningkat memang selalu dipandang dari dua sisi. Bagi mereka yang optimistis, mereka melihatnya sebagai peluang investasi di masa depan, sementara mereka yang pesimistis, ini disebabkan keraguan terhadap kemampuan finansialnya. Mereka yang belum yakin dengan kemampuan kemungkinan adalah mereka yang masih awam atau kurang informasi. 

“Sementara jika ada konsumen yang mengeluhkan suku bunga yang tinggi namun jika kita lihat berdasarkan data dan ditarik mundur, tingkat suku bunga yang berlaku saat ini tidak lebih tinggi dari suku bunga pada tahun 2015. Oleh karena itu, setelah dua kebijakan Bank Indonesia tersebut berlaku secara efektif maka diharapkan industri properti bisa menggeliat kembali,” jelas Marine.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Firman Qusnulyakin