• News

  • Ekonomi Mikro

Bina Pelaku UKM, Kemendag Sasar Ekspor ke Amerika dan Eropa

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan
Kemendag
Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan

SERPONG, NETRALNEWS.COM – Dalam tugas dan fungsinya meningkatkan ekspor Indonesia ke seluruh Dunia, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) memiliki program pengembangan produk, pengembangan pasar, promosi  ekspor, dan pelatihan prosedur ekspor.

Ditjen PEN juga berperan dalam meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar produk ekspor lndonesia di pasar internasional melalui mekanisme kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, para stakeholder, serta mitra-mitra dari luar negeri.

Ditjen PEN, Kementerian Perdagangan berinisiatif melaksanakan seminar Peluang dan Potensi Ekspor ke Pasar Amerika dan Eropa kepada para pelaku UKM, untuk meningkatkan pemahaman dan informasi terkait selera pasar, tren, dan kriteria produk yang memiliki peluang di pasar ekspor.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda mengatakan, Ditjen PEN akan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan untuk mengejar target pertumbuhan ekspornon-migas Indonesia 2019 yang telah ditetapkan sebesar 7,5% atau menjadi US$ 175 miliar.

“Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelakuusaha Indonesia agar memiliki tambahan pengetahuan dan informasi yang baru dari pengalaman dan ilmu dari para tenaga ahli”, jelas Marolop Nainggolan, Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor selaku penanggungjawab kegiatan, dalam siaran persnya, Rabu (17/7/2019).

Marolop Nainggolan menambahkan bahwa, “Kementerian Perdagangan menjalinkemitraan dengan organisasi pemerintah dan non-pemerintahdi luar negeri untuk meningkatkan kapasitas para pelakuusaha dan akses informasi terkait regulasi, persyaratan, tren, dan preferensi pasar tujuan ekspor. Berbagai kerja sama tersebut dijalin untuk memberikan manfaat kepada pengusaha Indonesia agar dapat mengembangkan bisnis ke luar negeri”, kata Marolop Nainggolan.

Salah satu poin dari seminar bahwa dalam melakukan ekspor ke Eropa dan Amerika, eksportir dipersyaratkan memenuhi prosedur dan persyaratan yang dirasa rumit.

“Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan baik bagi produsen maupun konsumen”, ujar tenaga ahli CBI Belanda, seorang nara sumber pada acara ini.

Hal senada disampaikan olehtenaga ahli TPSA Project Kanada bahwa, “Calon eksportir perlu bersiap dengan sebuah rencana bisnis, dan melakukan riset pasar”.

Pada tahun 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalamidefisit sebesar US$ 8,69 miliar dengan komposisi impormigas sebesar US$ 12,69 miliar dan ekspor non-migasIndonesia hanya sebesar US$ 3,99 miliar.

Ekspor Indonesia pada periode tersebut mengalami pertumbuhan 1,62% di mana pertumbuhan ekspor non-migas mengalami peningkatansebesar 3,76% sedangkan ekspor migas mengalami penurunan sebesar 12,04% periode yang sama. Impor Indonesia padaperiode tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 2,13% di mana produk non-migas juga mengalami pertumbuhansebesar 4,56% dan impor migas turun sebesar 7,34%.

“Memperhatikan situasi ini, Kementerian Perdaganganmemandang perlu memberikan bimbingan kepada para pelaku khususnya UKM untuk dapat meningkatkan kapasitas dalammenggarap pasar tujuan ekspor”, kata Marolop Nainggolan.

Editor : Sulha Handayani