• News

  • Gaya Hidup

Berani Terima Tantangan, Yuk ke Shocktober

Shocktober hadir di La Piazza, Kelapa Gading.
Santana
Shocktober hadir di La Piazza, Kelapa Gading.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di sebuah sudut mall besar di Jakarta Selatan, terlihat toko menjual beragam kostum Halloween. Beberapa anak kecil ditemani para ibu sibuk memilih dan membeli kostum Halloween.  Anak-anak ini sedang asyik memilih kostum untuk menghadiri pesta Halloween yang diadakan di sekolahnya.

Perayaan Halloween belakangan ini, kian akrab di telinga masyarakat kota besar seperti Jakarta. Tidak hanya pesta untuk di sekolah, beragam restoran, kafe  dan hotel secara khusus menggelar pesta Halloween.

Di La Piazza, Kelapa Gading secara khusus menggelar Shocktober hingga 6 November. Ini merupakan rangkaian Halloween dengan program Misteri Gerbong Hantu. Ini menghadirkan suasana mencekam stasiun kereta api tua zaman Belanda.  Uniknya, di sini akan dihadirkan talent-talent hantu yang akan membuat petualangan menegangkan bagi pengunjungnya.

Halloween dirayakan setiap 31 Oktober di  Amerika, Inggris, Eropa dan beberapa negara lainnya. Tradisi Halloween saat ini tampaknya sudah banyak dilakukan di beberapa negara. Sejak kapan Halloween menjadi tradisi?

Perayaan Halloween di Amerika, Inggris dan Kanada, telah dimulai saat orang Skotlandia dan Irlandia berimigrasi pada tahun 1800-an. Umumnya, mereka menghias rumah mereka dan memasang Jack O’Lantern  di depan rumah mereka. Mereka akan memberi permen dan cokelat saat anak-anak memberikan salam trick or treat.

Di Irlandia diyakini sebagai tempat kelahiran Halloween, dirayakan mirip yang dilakukan di Amerika. Di pedesaan, api unggun dinyalakan dan anak-anak berdandan dengan kostum menyeramkan. Anak-anak akan berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka dan mengetuk pintu dan berteriak  trick or treat. Para warga akan saling berkunjung dan menggelar pesta.

Di beberapa negara Eropa, seperti Cekoslovakia, setiap keluarga menempatkan kursi di dekat perapian pada malam Halloween untuk arwah anggota keluarga. Sedangkan Belgia mempunyai kebiasaan dengan menyalakan lilin untuk mengingat kerabat telah meninggal. Sementara Jerman, orang-orang menyingkirkan pisau mereka pada malam Halloween. Mereka takut hal ini membahayakan keluarga mereka dengan kunjungan arwah.

Di Swedia, Halloween dikenal sebagai Dag Helgons Alla dan menjadi festival meriah dan berlangsung mulai 31 Oktober sampai 6 November. Prancis hanya menganggap Halloween merupakan libur Amerika, baru sejak tahun 1996 mereka mulai merayakannya.  
Sedangkan di Austria, biasanya akan menaruh roti, air dan lampu di atas meja sebelum memasuki malam Halloween. Benda-benda ini diyakini akan menyambut arwah orang meninggal kembali ke bumi. Bagi masyarakat Austria malam Halloween dianggap mempunyai energi kosmik kuat.

Negara-negara Asia,  perayaan Halloween juga dirayakan. Hong Kong dikenal sebagai Yue Lan (Festival Hantu Lapar) dan merupakan waktu yang  diyakini bahwa roh-roh berkeliaran dunia dalam dua puluh empat jam. Orang Jepang merayakan Festival Obon (juga dikenal sebagai Matsuri atau Urabon), untuk  mengenang arwah-arwah nenek moyang. Mereka pun menyediakan makanan khusus disiapkan dan lentera merah digantung di mana-mana.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?