• News

  • Gaya Hidup

Psikolog Ungkap Kehamilan Tak Direncanakan Berisiko untuk Ibu dan Anak

Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi
Netralnews/Martina Rosa
Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kehamilan tidak direncanakan dapat memberikan berbagai risiko bagi ibu dan anak. Pernyataan ini disampaikan, pasalnya cukup sering terjadi penolakan kehamilan atau ketidaksadaran bahwa dirinya hamil.

Stres ibu juga menjadi lebih tinggi selama kehamilan, kondisi kehamilan seperti demikian membuat tumbuh kembang janin terhambat.

Demikian disampaikan Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi dalam Talkshow Ibu Milenial Cerdas dalam Perencanaan Keluarga dan Memilih Kontrasepsi Modern, di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

"Setelah lahir, kasih sayang antara ibu dan bayi juga kurang berkembang optimal, sehingga tumbuh kembang psikologis anak iadi bermasalah. Sebaliknya dengan jarak kehamilan yang direncanakan, ibu dapat mengembangkan dirinya, mengurus keluarga secara lebih optimal dan menjadi lebih bahagia," jelas dia.

Menurut Anna, dengan begitu, setiap anak yang dilahirkan juga dapat menjadi lebih diperhatikan sehingga perkembangannya lebih optimal.

Berbagai keadaan tersebut bisa terjadi karena masyarakat Indonesia kerap memberikan tuntutan bagi pasangan yang baru menikah untuk segera memiliki anak, bahkan segera menambah jumlah anak. Padahal jarak kehamilan ideal secara psikologis rentangnya 2-5 tahun.

Menurut Anna, menghadapi tuntutan sosial tersebut selayaknya seorang ibu berdaya untuk memilih apakah dan kapan ingin hamil dan memiliki anak. Dengan memilih, maka dia jadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan konsekuensinya.

Salah satu metode merencanakan keluarga yaitu dengan menggunakan kontrasepsi. Perencanaan keluarga yang tepat akan memberi kesempatan pada ibu untuk mengembangkan dirinya misalnya dari segi pendidikan dan sosial.

Peran suami juga sangat penting sebagai mitra dalam perencanaan keluarga untuk hadapi berbagai hambatan yang muncul dari sisi ibu maupun dari lingkungan. Menurutnya adanya keterlibatan suami, hambatan ini bisa diminimalisasi dan diatasi.

"Dengan demikian keluarga dapat mengurangi terjadinya kehamilan tidak direncanakan, dan sebaliknya dapat menciptakan keluarga yang lebih bahagia," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya