• News

  • Gaya Hidup

Urine Berbusa dan Keruh Bisa Jadi Pertanda Gangguan Fungsi Ginjal

Urine berbusa dan keruh bisa jadi pertanda gangguan fungsi ginjal.
News
Urine berbusa dan keruh bisa jadi pertanda gangguan fungsi ginjal.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tahukah Anda bahwa keadaan urine yang berbusa dan keruh bisa jadi pertanda dari gangguan fungsi ginjal?. Namun tidak perlu langsung khawatir, pasalnya tidak semua kejadian urine berbusa dan keruh pasti merupakan tanda gangguan fungsi ginjal.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) Dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH,FINASIM mengatakan, keadaan yang mengakibatkan urine berbusa dan keruh adalah Proteinuria. Proteinuria adalah keadaan adanya protein di urine (proteinuria), yang diyakini sebagai tanda awal dan utama adanya kerusakan ginjal.

"Ini (proteinuria) juga menjadi faktor risiko memburuknya fungsi ginjal dengan cepat dan indiaktor kemungkinan terjadinya serangan jantung," tegas Dr Tunggul, saat Diskusi Media "Kendalikan Hipertensi, Sayangi Ginjalmu" di Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Lantas, bagaimana cara bedakan urine yang mengandung proteinuria dan tidak?. Menurut Dr Tunggul, cara membedakan urine yang mengandung proteinuria dan tidak adalah melalui pemeriksaan laboratorium.

Kata Dr Tunggul, proteinuria juga disebut albuminuria atau urin albumin namun pemeriksaan khusus albumin akan lebih mahal, sehingga bisa dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium.

"Kalau berbusa ada kemungkinan sudah terjadi masalah gangguan pada ginjal. Belum tentu fungsi ginjal rusak, tapi ada indikator kerusakan ginjal," kata dia.

Maka dari itu diimbau Dr Tunggul, bagi masyarakat yang alami urine berbusa atau keruh untuk tidak mengabaikannya. Disarankan memeriksakan ke medis untuk selanjutnya diukur kadar protein melalui pemeriksaan laboratorium.

"Kalau pada pria saat buang air kecil memang berbusa karena menyembur, tapi bukan berbusa yang seperti itu. Jadi kalau urine yang didiamkan, berbuih, keruh maka itu indikator gangguan fungsi ginjal," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani