• News

  • Healthy Life

Hati-Hati! Lebaran Musim Reuni, Benih Perselingkuhan Bertaburan

Ilustrasi reuni
foto: sharingdisini.com
Ilustrasi reuni

Aroma Lebaran terasa semakin mendekat. Musim pulang kampung atau mudik pun segera tiba. Banyak orang melengkapinya dengan pertemuan antar kawan-kawan sekampung. Tak jarang juga dimeriahkan dengan acara reuni teman sekolah.

Momen indah dan menggembirakan itu sebenarnya merupakan kebiasaan yang baik dalam rangka memperkuat tali silaturahmi. Tetapi, hati-hati! Ada bahaya yang mengincar di balik kebiasaan itu.

“Mulanya saya anggap sebagai hal biasa saja. Saya pun tidak menyadari bahwa itulah awal malapetaka rumah tangga saya,” ungkap lelaki yang minta dipanggil dengan nama Jaja (43) kepada Netralnews.com, di Bogor hari Senin (20/5/2019).

Ia adalah seorang karyawan swasta yang sebelumnya pernah menikah dan memiliki satu orang anak. Setelah prahara melanda rumah tangganya sekitar dua tahun lalu, ia kemudian hidup menduda hingga kini.

“Mantan istri saya akhirnya jatuh cinta pada mantan pacarnya waktu SMA. Gara-garanya, ikut reuni sekolahnya usai Lebaran dua tahun lalu,” lanjut Jaja.

Rupanya, sejak pertemuan itu, istrinya kemudian sering menaruh perhatian, saling telpon, akhirnya berujung kencan. Jaja pun seperti tersambar geledek ketika mendengar keputusan istrinya untuk menyudahi perkawinan mereka, tujuh bulan setelah reuni tersebut.

“Tak menyangka, istri saya pindah ke lain hati. Padahal kami sudah memiliki satu anak. Pernikahan barunya dengan cinta lamanya juga membuat perceraian di pihak lelaki itu,” lanjut Jaja.

Ia melanjutkan, “Saya berharap pengalaman saya bisa menjadi pelajaran bagi yang lain. Hati-hatilah dengan kebiasaan reuni. Di balik itu, ada bahaya yang sangat menyakitkan!” keluh Jaja.

Hampir serupa dengan pengalaman Jaja. Kali ini seorang Ibu rumah tangga warga satu perumahan di Bogor, Jawa Barat.

“Keluarga saya nyaris hancur gara-gara suami saya selingkuh dengan perempuan seangkatannya,” kata Rita (nama samaran) melalui curhat Whastapp dengan Netralnews.com.

Beruntung Rita berhasil mempertahankan ikrar janji sehidup sematinya (perkawinan) dengan suaminya, walaupun ia sempat mengalami stres selama berbulan-bulan. Ia berhasil melewati masa-masa gelap dalam hidupnya.

“Enam bulan saya baru bisa rujuk kembali dengan suami. Ia mengaku khilaf dan mau bertobat serta berjanji tidak akan mengulangi lagi,” papar Rita.

Pola perselingkuhan yang dilakukan suami Rita ternyata sama. “Mulanya saling memberi perhatian, kemudian ada reuni, lalu berujung kencan sembunyi-sembunyi. Ketika saya pergoki langsung, barulah mengaku,” kata Rita menjelaskan penyebab keretakan rumah tangganya.

Harus diakui, bagi pasangan suami-istri, tantangan dan godaan terhebat berumah tangga adalah menahan godaan untuk berselingkuh. Walaupun dahulu pernikahan dilangsungkan dengan sakral dalam ikrar saling setia, ada saja aral melintang akibat munculnya pihak ketiga.

Ada banyak sebabnya. Masing-masing kasus memiliki latar belakang unik dan kompleks. Celah perselingkuhan bisa datang tanpa disadari. Jika tidak diantisipasi dan disikapi sejak dini, niscaya bahtera rumah tangga akan kandas.

Salah satu celah yang sering disusupi adalah acara reunian. Percikan asmara yang dahulu belum kesampaian, kembali  membara saat berjumpa sang primadona masa lalu.

Psikolog Tiara Puspita M.Psi dari tim psikolog Tiga Generasi, mengungkapkan bahwa perselingkuhan akan menimbulkan dampak psikologis seperti syok, malu, tersakiti, dan merasa dikhianati.

Dampak tersebut, sebenarnya juga akan dialami baik bagi pasangan dari pihak yang selingkuh, tetapi juga bisa berdampak pada pasangan dari pihak lawan yang berselingkuh (bila sudah menikah).

Masing-masing tingkat stres memang berbeda. Tetapi, “Dampak terbesar dirasakan oleh wanita yang diselingkuhi bisa berlarut-larut,” terang Tiara seperti dinukil dari intipesan.com.

Pasangan yang sudah pernah menjadi korban perselingkuhan, akan menjadi pribadi yang mudah curiga, berkurangnya tingkat kepercayaan terhadap pasangan, dan sebagainya.

“Ini terjadi lantaran adanya in-security atau perasaan tidak aman, karena timbulnya perasaan bahwa mungkin dirinya akan tergantikan oleh orang lain. Juga adanya kemarahan yang meluap, upaya untuk mengontrol dan menghukum pasangan yang selingkuh. Munculnya keinginan untuk membalas (kepada pihak ketiga, red), menarik diri, malu, hingga terus mengingat perselingkuhan meskipun pasangannya tidak lagi berselingkuh,” tandas Tiara.

Untuk itu, bagi siapapun, ada baiknya saling instrospeksi dan mengontrol diri. Bagi yang sudah menikah, ada baiknya terus meningkatkan kesadaran untuk tidak bermain api.

Reuni saat merayakan Lebaran tak ada salahnya jika dibarengi dengan sikap bijaksana, mawas, dan menahan diri. Cinta sejati juga harus bisa diukur dari sikap bertahan untuk tetap setia dengan pasangan Anda masing-masing.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?