• News

  • Hiburan

Indonesia Jadi Panggung Pertama Kelompok Dance Teater Inggris Pentaskan ‘Baal‘

Impermanence mementaskan Baal yang diadopsi dari tulisan Bertolt Brecht (1918)
Istimewa
Impermanence mementaskan Baal yang diadopsi dari tulisan Bertolt Brecht (1918)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Impermanence mementaskan "Baal” yang diadopsi dari tulisan Bertolt Brecht (1918). Indonesia bahkan menjadi panggung pertama di mana karya terbaru kelompok dance teater Inggris tersebut dipentaskan. 

Pementasan Baal ditampilkan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Kamis (11/7/2019) dan Jumat (12/7/2019), pukul 20.00 WIB. 

Pementasan Baal ini merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakartayang bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), British Council dan The Japan foundation serta Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Acara dikemas dalam perhelatan akbar Djakarta Teater Platform (DTP) ke-4 pada 8-20 Juli 2019. 

Pada hari kedua pementasan Baal, menurut pantauan Netralnews, Jumat (12/7/2019), Graha Bhakti Budaya dipadati oleh para penonton. Bahkan, banyak penonton yang rela hadir sebelum pukul 20.00 WIB untuk menyaksikan pertunjukkan kali ini.

Baal ditampilkan melalui empat penari yang bergulat dengan cinta, seksualitas, seni, ketenaran, pengkhianatan, sifat dan nafsu. Saat adegan-adegan matador, landladies, hantu, hewan sirkus, dan hutan membentang, menarik penonton lebih dalam ke dunia kaleidoskopik dari gambar-gambar surealis, fisik ekstrem, dan drama tinggi. 

Tampil bersama film yang menggabungkan cuplikan baru dengan bahan arsip, dan sebuah soundtrack orisinil dibuat dan dipertunjukkan secara langsung oleh musisi elektro-akustik Robert Bentall. 

Brecht menciptakan monsternya pada tahun 1918 ketika ia berjuang untuk berdamai dengan pembantaian Perang Dunia Pertama. Baginya, penyair Baal melambangkan penyangkalan kejam terhadap tanggung jawab pribadi yang dilihatnya di sekelilingnya dan itu sebagai simbol bahwa Baal masih relevan secara relevan, baik sebagai pengemis egois dan sebagai wakil dari para elit plutokratis yang melayani diri sendiri yang diklaim sedang membinasakan Bumi.

Diakhir penampilan, Baal yang dikoreografikan oleh Roseanna Anderson dan Josh Ben-Tovim yang keduanya merupakan sutradara, Alessandro Marzotto Levy, dan Sonya Cullingford disambut tepuk tangan yang meriah oleh penonton.

Selain Baal, ada beragam acara yang  diadakan selama pekan kegiatan dengan tema “Kekuasaan dan Ketakutan" ini. Beragam acara diantaranya pertunjukan, pameran, diskusi, workshop dan lecture, yang bertempat di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Studio TOM FFTV dan Gedung Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta. 

Selain menghadirkan seniman lokal, DTP tahun ini juga mendatangkan tiga kelompok seniman teater luar negeri, yakni Impermanence Dance Theatre dan Corali Dance Company dari Inggris, serta Yasuhito Yano, yakni sutradara Theatre Company Shelf dari Jepang. 

Corali dan Impermanence akan berpartisipasi bersama dalam residensi inklusif bertemakan kesenian disabilitas selama sepekan. Corali telah bekerjasama dengan Impermanence dalam beberapa tahun belakangan untuk membuat proyek lokakarya tentang kesenian disabilitas. Sejak didirikan pada 1989, Corali terkenal sebagai pemimpin dalam penciptaan pertunjukan tari dengan penekanan khusus pada pembelajaran disabilitas.

Yasuhito Yano akan membedah naskah "Antigone"-nya dalam acara workshop dan lecture bertajuk Tubuh dan Teks. Yano terkenal karena kepiawaiannya merevisi kembali teks-teks klasik dari seluruh dunia dengan merekonstruksi teks-teks itu secara tekstual. Dalam budaya teater modern Jepang, gaya Yano yang berkonsentrasilpada arah, jarang terjadi karena hampir semua sutradara Jepang juga penulis naskah drama.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli