• News

  • Hukum

Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Saksi Pembunuhan, Ini Langkah KPAI

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA Sitti Hikmawattty
dok.KPAI
Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA Sitti Hikmawattty

JAKARTA, NNC - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pengawasan kasus pada anak berkebutuhan khusus yang berkonflik dengan hukum.

Pernyataan ini disampaikan Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA Sitti Hikmawatty terkait pembunuhan karyawati bank di Lembang, Ela Nurhayati (42) di Kampung Pangragajian RT 03 RW 09 Desa Kayuambon Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Untuk diketahui, saksi kunci yang diharapkan polisi dapat membantu mengungkap misteri pembunuhan di Kampung Pangragajian adalah anak kandung korban yang berkebutuhan khusus.

"KPAI sejak awal telah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait. Sebelumnya, pihak keluarga almarhumah telah menyampaikan secara langsung  beberapa hal terkait kasus yang menimpa kepergian adik dan kakak mereka kepada KPAI," kata Sitti pada NNC, Selasa (16/10/2018).

KPAI juga telah mendapatkan informasi-informasi penting dari psikiater yang merawat ananda. Maka dengan telah selesainya penyelidikan yang dilakukan oleh Kepolisian, KPAI memberikan kesempatan kepada proses penegakan hukum dalam kasus tersebut.

"Sebagai lembaga  pengawas perlindungan anak, KPAI perlu memastikan agar pelaksanaan Sistem Peradilan Pidana Pada Anak dapat dilakukan dengan sebaik mungkin. Apalagi ini terkait kasus anak berkebutuhan khusus yang berkonflik dengan hukum, tentu Dewan Hakim akan lebih berhati-hati lagi dalam membuat amar putusan," jelas Sitti.

Menurut Sitti, di atas itu semua penting agar putusan ini merujuk pada aturan dalam konvensi Hak anak, terutama mengacu pada Kepentingan Terbaik Anak serta Restorative Justice.

"Dalam kesempatan ini kami juga mengimbau, para orang tua maupun pendidik untuk lebih arif dan berhati-hati dalam menjaga lingkungan pengasuhan anak, dari  pengaruh lingkungan teman, keluarga, tontonan dan media sosial," imbau Sitti.

Kata Sitti, perlu dipahami bahwa mekanisme pertahanan diri anak untuk membuat sebuah keputusan-keputusan dalam hidupnya, belum cukup matang dalam memilah-milah berdasarkan  informasi yang mereka terima. Karena itu mereka sangat mudah untuk modelling (mencontoh begitu saja dari yang dilihat) daripada mendengarkan  nasihat-nasihat.

"Sehingga kita perlu menjaga agar informasi dan masukan yang mereka terima adalah sesuatu yang baik dan positif," sambung dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya