• News

  • Hukum

Saksi Kubu Prabowo Mengaku Diancam, Tapi Bukan Terkait Sidang MK, Lantas? 

Agus Muhammad Maksum, saksi fakta dari tim hukum capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Netralnews/Adiel Manafe
Agus Muhammad Maksum, saksi fakta dari tim hukum capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Agus Muhammad Maksum, saksi fakta dari tim hukum capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mengaku diancam. 

Pengakuan itu disampaikan Agus kepada hakim MK, saat dihadirkan sebagai saksi pertama dalam sidang ketiga sengketa Pilpres 2019 di gedung MK, Jakarta, Rabu (19/6/2019). 

Awalnya Agus menyebut dirinya sebagai tim dari paslon Prabowo-Sandi yang bertugas meneliti dan memberi masukan ke KPU soal daftar pemilih tetap (DPT), terutama DPT yang bagi kubu 02 dianggap invalid atau tidak benar. 

"Saya akan menerangkan adanya DPT yang kami laporkan pada tanggal 1 Maret 2019 kepada KPU sebagai bagian dari kerjasama keterlibatan tim pasangan capres untuk mencermati dan memberi masukan kepada KPU tentang adanya DPT invalid ataupun kemudian DPT-DPT yang menurut kami itu tidak benar," kata Agus. 

Usai memberikan keterangan soal posisinya sebagai saksi, hakim MK Aswanto kemudian melontarkan pertanyaan ke Agus soal ada tidaknya ancaman yang diterima terkait kehadirannya sebagai saksi di sidang MK. 

"Saudara saksi, apakah saudara dalam memberikan keterangan saudara tidak mendapat tekanan atau ancaman dari pihak manapun?" tanya Aswanto. 

"Sebelumnya kami ada ancaman itu," jawab Agus. 

Aswanto kembali bertanya soal ancaman seperti apa yang diterima Agus. Agus pun enggan membeberkan. 

"Saya mohon maaf tidak menjelaskan disini secara terbuka," ucap dia. 

Mendengar jawaban itu, Aswanto mengatakan "Oh ndak bisa, ini pengadilan terbuka untuk umum, biar didengar dan disaksikan oleh semua rakyat Indonesia."

Karena diminta untuk terbuka, Agus pun mengaku diancam dibunuh. "Ancaman itu pernah sampai kepada saya dan juga keluarga saya, dan juga sudah tersebar beritanya, tentang ancaman pembunuhan," ujarnya. 

Pengakuan Agus membuat hakim Aswanto kembali bertanya soal pihak yang mengancamnya. Namun Agus menolak untuk membeberkan. 

"Mohon maaf, yang itu yang kami tidak ingin menyampaikan karena menurut saya itu akan menimbulkan persoalan yang lebih keras kepada saya, jadi cukup saya sampaikan itu saja," tuturnya. 

Lantaran Agus enggan mengungkap siapa yang telah mengancam, hakim kemudian menanyakan soal waktu ancaman itu diterima Agus. 

"Kalau saudara tidak mau menyampaikan siapa pengancamnya, kapan saudara diancam?" tanya Aswanto. 

"Sekitar bulan April, mendekati bulan April, di awal bulan April," ungkap Agus. 

Berdasarkan pengakuan Agus itu, Aswanto melanjutkan "Berarti ketika itu kan saudara belum ketahuan akan menjadi saksi atau tidak kan?."

Agus pun membenarkan hal tersebut. "Oh iya, makanya, berkaitan dengan DPT, berkaitan dengan DPT," imbuhnya. 

Aswanto lalu meminta penegasan bahwa ancaman yang diterima Agus tidak 

ada kaitannya dengan kehadiran dia sebagai saksi di persidangan Mahkamah. 

"Ya, Tidak," singkat Agus. 

"Ini kaitannya dengan fungsi anda mendalami soal DPT?" papar Aswanto. 

"Ya, betul," balas Agus. 

Hakim Aswanto kembali memastikan lewat pertanyaan soal ada tidaknya tekanan yang diterima Agus terkait kehadirannya di sidang yang beragendakan mendengarkan keterangan saksi pemohon itu. 

"Hari ini tidak," jawab Agus. 

"Untuk datang ke persidangan ada yang menghalang-halangi atau tidak?" tanya Aswanto. 

"Tidak," tegas Agus. 

Diketahui, tim hukum capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menghadirkan 15 saksi fakta dan dua saksi ahli dalam sidang ketiga sengketa Pilpres 2019 di MK, Rabu (19/6/2019). 

Adapun dua saksi ahli yang dihadirkan tim hukum Prabowo-Sandi dalam sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dari pemohon ini, yakni Jaswar Koto dan Soegianto Sulistiono.

Sementara 15 saksi fakta, antara lain Agus Maksum, Idham, Hermansyah, Listiani, Nur Latifah, Rahmadsyah, Fakhrida, Tri Susanti, Dimas Yehamura, Beti Kristiani, Tri Hartanto, Risda Mardiana, Haris Azhar, Said Didu, dan Hairul Anas. 

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli