• News

  • Hukum

Kisah Pilu Chandri Widharta, Asuh Anak PSK Pengidap HIV tapi Dituduh Jual Organ

Chandri Widharta (kiri) dan Almarhumah Ibu dari FA
Netralnews/Istimewa
Chandri Widharta (kiri) dan Almarhumah Ibu dari FA

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – “Saya tunggu di Starbuck, ya”, demikian bunyi pesan WA Chandri Widharta (CW) kepada Netralnews.com. Hari itu, Rabu (10/7/2019) kami janjian bertemu untuk membahas tentang kasus yang membelitnya selama satu setengah tahun terakhir.

Tim Netralnews akhirnya sampai di lokasi yang ditunjukkan CW, yakni di Starbuck salah satu rumah sakit yang terletak di Jakarta Pusat. Lokasi itu dipilih karena saat itu CW sedang menunggui tiga anak asuhnya yang sedang dirawat inap di rumah sakit.

Terlihat sosok wanita berambut putih dengan wajah bulat bersih sudah menunggu kedatangan kami. Di sampingnya ada beberapa orang kerabatnya. Kami pun segera berkenalan.

Sudah berusia lanjut, CW tetap terlihat energik walau memikul beban masalah yang tidak sedikit. Sesudah memesan segelas kopi, singkat cerita terjadilah percakapan tentang detail bagaimana masalah yang selama ini menderanya.

Hasil bincang-bincang dengan CW, Netralnews berusaha paparkan dalam beberapa artikel berita secara bersambung. Ini bagian pertama.

Ingin menolong sesama yang membutuhkan

CW lahir di Surabaya tahun 1953. Tak disangka usianya sudah 66 tahun. Pemberitaan-pemberitaan sebelumnya ternyata tidaklah benar karena sering ditulis 60 tahun bahkan ada yang menyebut masih berusia 57 tahun.

Ia sudah menjanda cukup lama sejak suaminya meninggal. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang anak kandung yang kini tinggal di luar negeri. CW tidak ikut anak kandungnya tetapi memilih tetap tinggal di Jakarta bersama lima anak asuhnya.

“Saya ingin habiskan sisa hidup saya untuk melayani orang lain,” tutur CW yang sehari-hari sering dimintai pertolongannya sebagai pendoa bagi orang sakit yang membutuhkan pengobatan secara spiritual.

Mereka yang minta bantuan doa terdiri dari orang tak mampu hingga orang berada. CW tidak mengharapkan imbalan. Kalau ada orang yang kemudian sembuh dan merasa tertolong serta memberikan uang jasa, CW gunakan untuk pihak lain yang membutuhkan.

“Tahun 2003, saya mulai menerima anak-anak yang tidak diinginkan kelahirannya oleh orangtua dan keluarganya. Saya tidak bermaksud untuk mengadopsi atau mengangkat mereka, akan tetapi saya hanya berpikir untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan anak-anak itu,” tutur CW memberikan klarifikasi atas motivasi ia mengangkat anak asuh.

Ia mengakui bahwa tindakannya seharusnya disesuaikan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Ia menganggap bahwa mengasuh anak terlantar, bukan hanya dirinya saja. Di Indonesia, ada banyak orangtua yang sama seperti dirinya, ikhlas mengasuh anak terlantar  tetapi buta hukum.

“Tanpa pernah saya berpikir tentang peraturan dan hukum yang berlaku. Saya hanya merasa digerakkan oleh perintah Tuhan sesuai ajaran agama yang saya anut. Tapi ada dokumen dan bukti asal usul pertama kali, dari mana anak-anak asuh saya,” kata CW sambil menunjukkan dokumen tersebut.

Isi dokumen yang ia sodorkan, berupa surat pernyataan serah terima anak asuh dari ibu kandungnya kepada CW. Rata-rata menjelaskan bahwa pihak ibu kandung mengaku tak mampu merawat anaknya sehingga diserahkan kepada CW. Berikut salah satu petikan dokumen tersebut:

Saya menyerahkan anak (inisial RA) kepada Ibu Chandri Widharta untuk diasuh dan dirawat sebagai anaknya. Saya menyerahkan anak RA tanpa paksaan dan tanpa tekanan dari pihak manapun. Saya juga tidak berniat untuk meminta kembali anak RA yang sejak saya serahkan kepada Ibu Chandri Widharta telah menjadi anaknya...”

Surat itu ditandatangani dan dibubuhi dengan materai 6 ribu  lengkap dengan tanda tangan sejumlah saksi.

CW pernah berusaha menolak orang tua biologis yang ingin menyerahkan anaknya. Kala itu, CW merasa cukup lelah dan merasa sudah tua, apalagi hidup menjanda. Namun orang tua itu memohon-mohon kepadanya.

“Saya pernah menolak untuk mengasuh anak tersebut mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi dan janda. Akan tetapi orangtua anak itu memohon-mohon dengan alasan mereka tidak mampu mengasuh dan anak itu lahir tanpa diketahui siapa bapak biologisnya,” kata CW.

CW juga menerangkan bahwa salah satu anak asuhnya adalah seorang anak seorang ibu yang berprofesi sebagai wanita penghibur dan terkena HIV. CW kemudian menunjukkan dokumen terkait anak itu dan memperlihatkan foto ibu salah satu anaknya sewaktu belum meninggal.

“Ia meninggal bulan Februari 2017 karena HIV tinggat lanjut yang menggerogotinya,” jelas CW.

Singkat cerita, akhirnya CW memiliki 5 anak asuh yang dibesarkan sejak mereka lahir ke dunia. Mereka adalah RA (laki laki) umur 16 tahun, FA (laki laki) umur 15 Tahun, OL (perempuan) umur 14 Tahun, ED (laki laki) umur 11, dan TI (laki laki ) umur 10 Tahun.

RA adalah anak asuh yang paling tua dan telah dibesarkan CW sejak lahir. Artinya, ia sudah menjadi anak asuh CW selama 16 tahun.

Karena lahir dan tinggal sejak bayi, bagi anak-anak asuhnya, CW adalah orang tua mereka.

“Kelima anak itu sangat dekat dengan saya karena memang mereka tidak lagi bersama orangtua biologisnya. Akan tetapi, saya tetap menjalin komunikasi dengan orangtua biologis mereka,”  kata CW.

Dalam hal ini, CW merasa apa yang dilakukannya bukan suatu kejahatan. Tak ada niat sedikitpun untuk tujuan negatif atas apa yang dilakukannya.

“Apakah saya salah karena saya sudah menyelamatkan nyawa dan kehidupan anak anak tersebut? Sementara, orangtua biologis yang sudah melahirkan mereka ke dunia ini tidak mampu dan tidak mau merawat dan membesarkan mereka?” keluh CW.

Tambahnya, “ Hukum apa yang sudah saya langgar? Saya seorang wanita buta hukum. Saya akui bahwa saya sama sekali tidak tahu hukum.  Yang saya tau hanya kemanusiaan,” tegas CW.

Selain tetap menjalin komunikasi dengan orangtua biologisnya, CW juga tidak pernah menyembunyikan asal usul anak-anak asuhnya. Anak-anak pun mulai paham siapa mereka sesungguhnya.

“Saya juga memenuhi kebutuhan anak-anak sesuai kemampuan saya. Saya menyekolahkan anak-anak sebagaimana anak-anak pada umumnya. Hanya FA yang memang sekolahnya terputus di kelas tiga SD. Anak ini memang anak asuh saya yang paling lambat,” tutur CW.

 

Baca berita selanjutnya: "Kasus Chandri Widharta, Niat Hati Asuh Anak Terlantar Dituduh sebagai Penjual Organ Manusia"

Editor : Taat Ujianto