• News

  • Hukum

Kasus Chandri Widharta, Niat Hati Asuh Anak Terlantar Dituduh sebagai Penjual Organ

Chandri Widharta bersama salah satu anak asuhnya
Netralnews/Istimewa
Chandri Widharta bersama salah satu anak asuhnya

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebelum kejadian banjir tahun 2007, Chandri Widharta (CW) sebenarnya tinggal di rumahnya yang berada di Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun ada peristiwa yang membuatnya pindah dari rumah itu. Rumah itu kemudian tidak lagi dihuni dan kini tidak terurus.

“Tahun 2007, banjir melanda rumah saya. Saya sempat mengungsi berhari-hari. Sampai akhirnya, ada salah satu pasien yang pernah saya bantu menghubungi saya agar saya menetap di Hotel Peninsula. Orang ini dan juga beberapa orang lain yang membiayai penginapan di hotel tersebut,” papar CW.

Sejak itu, CW dan anak asuhnya tinggal di hotel. Tentu biayanya tak sedikit. Tetapi, orang-orang yang selama ini membantunya, tetap rutin membayar biaya selama menginap di hotel.

“Saya dibantu mereka dengan diberikan voucher hotel, bukan diberikan uang. Dengan voucher penginapan itu, jadilah selama beberapa tahun tinggal di hotel. Mulanya di Peninsula, kemudian sempat pindah di Twin Plaza Hotel Slipi, dan terakhir di Hotel Le Meridien,” sambung CW.

Dituduh menyekap anak dan viral di media

Bulan Agustus 2017, seorang anak asuh CW yakni FA kabur dari tempat tinggal CW yang kala itu masih tinggal di Hotel Le Meridien.

“FA lari meninggalkan hotel karena merasa bersalah telah mengambil uang tanpa ijin dari saya. Ia kemudian menuju rumah Ibu Rohana yang beralamat di Kramat V, Jakarta Pusat,” tutur CW.

Menurut CW, Rohana adalah seorang penjual minuman yang sebenarnya tidak ada hubungan keluarga dengannya maupun FA.

“Saya baru mengenal Rohana justru setelah FA kabur. Kala itu saya menjumpainya di rumah makan Kramat V, setelah ia memberitahu bahwa FA berada di rumahnya. Saya langsung ke sana, bahkan selanjutnya saya juga memberikan biaya hidup FA selama di sana,” tuturnya.

Sesekali CW juga datang kembali mengunjungi FA dan mengajak FA berbelanja keperluan hidupnya seperti baju, celana, dan makanan.

“Saya tidak membawa FA pulang karena Rohana meminta kepada saya, biar FA tinggal sementara bersama dia tapi semua kebutuhan FA selama di rumah Rohana, saya penuhi,” kata CW.

Tanggal 29 Januari 2018 FA ternyata menghubungi dan meminta bertemu CW karena Rohana sedang pergi ke Menado.

“Di pertemuan itu, FA menceritakan kalau dia disuruh D (anak Rohana) bekerja membuang kotoran ayam dan sempat mengancam akan dipulangkan ke Dewi (Ibu biologis Farul yang saat ini sudah meninggal karena mengidap penyakit HIV/AIDS tingkat lanjut),” terang CW.

Dari sini CW menduga bahwa Rohana sempat memiliki hubungan (berteman) dengan ibu kandung FA yang saat masih hidup pernah berprofesi sebagai PSK.

“Saya tidak tahu apa motif di balik semua yang dilakukan Rohana. Yang pasti, suatu hari setelah anak-anak selesai mengikuti kegiatan Home Schooling, tiba-tiba beberapa orang yang mengaku dari kepolisian dari Polres dan Polda mengambil dan membawa anak-anak asuh saya dari Hotel Le Meridien dengan paksa tanpa pemberitahuan kepada saya yang saat itu tidak sedang berada di hotel itu ,” tutur CW.

Saat itu, CW sedang menuju Airport. Niat hati mau melayat ke Jawa Timur karena adiknya baru saja meninggal. Ia akhirnya membatalkan pergi dan berbalik untuk mengurus anak-anak asuhnya di kantor polisi.

“Di kantor polisi, malam itu saya tidak diizinkan membawa pulang anak-anak asuh saya, tetapi diizinkan menginap di Hotel Ibis karena alasan sudah subuh,” sambung CW.

Keesokan harinya, CW diminta kembali melapor ke kantor polisi untuk menjalani proses BAP. Di kantor polisi, CW berusaha memberikan klarifikasi dan menjelaskan semuanya tentang keberadaan anak-anak asuhnya, terutama FA yang kabur dari Hotel Le Meridien

“Saya juga menjelaskan bahwa saya pernah menawarkan ke orangtua biologis dari anak-anak itu untuk mengambil kembali anak-anak tetapi tak satu pun orangtuanya bersedia. Orangtua mereka sudah mempercayakan anaknya kepada saya,” tutur CW.

Dalam proses selanjutnya, orang tua anak-anak asuh CW berhasil didatangkan dan memberikan kesaksiannya kepada polisi. Keterangan CW sudah dikonfirmasikan, termasuk ketika anak-anak asuhnya kemudian tinggal  di Rumah Aman (wisma anak yang dikelola Departemen Sosial).

“Semua orangtua atau keluarga anak asuh saya sudah memberikan keterangan dan klarifikasi baik kepada polisi maupun kepada pihak Panti Sosial. Tapi kenapa sampai hari ini tidak ada kejelasan sama sekali masalah ini,” keluh CW.

Dituduh wanita aneh

Kasus yang menjerat CW ternyata terkait pengaduan terhadap dirinya yang dituduh telah melakukan penyekapan terhadap anak-anak asuhnya.

Di hadapan penyidik, CW juga sempat dicecar tentang persoalan dari mana sumber penghasilannya.

“Saya ditanya dari mana uang untuk membesarkan anak-anak ini. Saya juga diminta membuat surat kuasa kepada polisi untuk mencek isi ATM saya. Saya juga bingung karena di ATM saya tidak pernah ada memiliki uang ratusan juta seperti anggapan mereka,” kata CW.

Rupanya ada asumsi-asumsi liar yang menganalogikan CW tinggal di hotel mewah selama bertahun-tahun, tentu memiliki harta melimpah. Oleh sebab itu, polisi mencurigai dari mana asal-usulnya sehingga bisa membiayai penginapan hotel yang tak murah.

Dalam berbagai pemberitaan, CW disebut-sebut sebagai wanita aneh yang tinggal 10 tahun di hotel dan telah menghabiskan dana sekitar 10 milyar.

“Selama ini, biaya hidup saya berasal dari kiriman anak dan menantu saya yang berdomisili di luar negeri. Yang lain dari pemberian orang yang merasa telah saya bantu melalui kegiatan saya sebagai pendoa (seperti telah disebut di awal, CW kadang mendapat voucher tinggal di hotel dari mereka, red),” kata CW.

CW kemudian dituduh pihak kepolisian telah melakukan tindak pidana diskriminatif terhadap anak, penelantaran terhadap anak, pemukulan sampai berdarah-darah terhadap anak.

“Saya juga dituduh melakukan penganiyaan terhadap anak, memberi makanan basi, menyekap di kamar mandi, dan sebagainya. Kemungkinan ini berasal dari keterangan Rohana kepada polisi. Rohana mengklaim mendapat pengakuan dari FA. Padahal itu bohong. Silakan dikonfirmasi ke FA,” tutur CW.

Dituduh sebagai penjual organ manusia

Hal paling menyakitkan, seperti dituturkan CW adalah bahwa ia dituduh menjadi pelaku penjualan organ tubuh manusia. Ia dituduh menyekap anak-anak asuhnya untuk dijual organnya.

“Pada tanggal 18 Maret 2018, Reza Amriel Indragiri dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) melalui TV ONE di acara Apakabar Indonesia menuduh saya telah melakukan penjualan anak, penjualan organ tubuh anak, dan saya juga difitnah melakukan penyekapan dan melakukan tindak kekerasan serta penganiayaan terhadap anak-anak tersebut,” terang CW.

Bagi CW, tuduhan tersebut sangat luar biasa mengerikan. CW merasa hanyalah seorang ibu yang sudah berumur lebih dari 60 tahun dan buta hukum tapi menjerit akibat tuduhan liar tersebut.

“Saya memang tidak mengerti hukum. Saya hanya berusaha melaksanakan perintah Tuhan dan mengedepankan rasa kemanusiaan untuk saling menolong dan berbagi. Saya tidak pernah melakukan hal-hal yang mereka tuduhkan itu,” kata CW.

Bahkan karena tuduhan itu, sejumlah orang tua dan saudara anak-anak asuhnya sengaja menghubungi CW dan menangis dengan tuduhan liar seperti itu.

“Seumur-umur, saya belum pernah diperlakukan seperti itu. Saya digambarkan laksana penjahat luar biasa,” tutur CW dengan berkaca-kaca.

CW mempersilakan aparat hukum mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi.

“Saya persilakan polisi ungkap kebenaran apa adanya. Juga ke pihak Ombudsman, Kementerian Sosial. Silakan tanyakan ke anak-anak asuh saya apakah saya benar pernah memperlakukan tindakan diskriminatif, menganiaya, menyekap anak-anak asuh saya agar kebenaran terungkap,” kata CW.

 

Baca berita selanjutnya: "Kasus Chandri Widharta, Anak Asuhnya Justru Saat Ini Terlantar"

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?