• News

  • Hukum

Dugaan Korupsi di PT KBN Mandek, Kinerja KPK Dipertanyakan

Depo peti kemas PT KBN (Persero) di Marunda, Jakarta Utara.
KBN
Depo peti kemas PT KBN (Persero) di Marunda, Jakarta Utara.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) kembali mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menuntaskan kasus dugaan korupsi di PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Persero.

Dugaan korupsi di PT KBN pernah dilaporkan oleh Front MAKI dan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Jakarta Utara. Front MAKI melaporkan dugaan korupsi di KBN sekitar Rp7,7 miliar.  Sementara, KBNU mencatat dugaan korusi di sana mencapai Rp64,1 miliar dari total 20 kasus.
 
Menurut Koordinator LSM MAKI Boyamin Saiman, KPK mestinya menindaklanjuti setiap laporan dari masyarakat. Laporan dugaan korupsi yang sudah disampaikan ke KPK harus dikaji dan didalami lebih lanjut. “Apapun laporan masyarakat harus ditindaklanjuti,” katanya dihubungi wartawan, Selasa (13/8/2019).
 
Boyamin mengatakan, KPK harus membantu menyelamatkan keuangan negara dari tangan-tangan rakus. Korupsi harus dijadikan musuh bersama untuk menyelamatkan aset negara. ”Kalau berhasil itu berarti KPK membantu negara untuk membayar utang,” tegasnya.

Direktur Ekskutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo juga menyayangkan sikap KPK yang belum menindaklanjuti laporan dugaan kasus korupsi di PT KBN yang diduga merugikan negara Rp7, 7 miliar. Padahal, berdasarkan tracking issue, kasus ini sudah menjadi sorotan publik.

"Tidak biasanya KPK membiarkan kasus dugaan korupsi yang menjadi sorotan publik. Jika kasus ini dibiarkan berlarut-larut maka akan berdampak buruk bagi citra KPK. Bisa menimbulkan persepsi negatif dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap kinerja KPK," ujar Karyono.
 
Senada dengan Karyono, Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Misbah Hasan berharap, KPK serius menindaklanjuti setiap menerima laporan dugaan korupsi dari masyarakat. Dia meminta pimpinan dan tim penyidik KPK berani mengusut dan menuntaskan dugaan korups yang telah dilaporkan masyarakat.
 
”Ini memang menjadi pekerjaan rumah (PR) besat bagi internal KPK dari penyidik sampai pimpinan KPK terkait banyaknya kasus yang belum diselesaikan,” ujar Misbah kepada wartawan, Selasa (13/8/2019).
 
Misbah mengungkapkan, laporan dugaan korupsi jangan dibiarkan menumpuk di KPK. Sebagai lembaga penegak hukum, lanjut Misbah, KPK jangan hanya mencitrakan diri sebagai lembaga pemberantasan korupsi melalui operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah. Padahal OTT yang selama ini dilakukan KPK, tambah Misbah, tidak juga memberikan efek jera.
 
“Jika dinilai, sebenarnya pimpinan KPK ini agak ragu dalam menyelesaikan kasus-kasus besar. Jadi selama ini pencitraan yang dibangun masih sebatas OTT kepala daerah, misalnya, yang itu secara nominal belum besar, nyatanya belum menimbulkan efek jera bagi kepala daerah lain untuk tidak melakukan korupsi," ucap dia.

"Karena ada kasus-kasus besar yang sebenarnya masih di simpan oleh KPK. Ini sebenarnya yang harus didorong keberanian pimpinan KPK melakukan atau menyelesaikan persoalan-persoalan korupsi besar. Itu belum dilakukan secara maksimal,” jelas Misbah.
 
Untuk itu, Misbah berharap pimpinan KPK ke depan memiliki komitmen kuat dalam hal pemberantasan dan pencegahan korupsi. Karena korupsi sudah menjadi penyakit parah yang mesti diselesaikan. Misbah juga mengatakan, salah satu kendala kenapa kasus dugaan korupsi menumpuk dan sebagian tidak ditindaklanjuti KPK, karena hal itu disebabkan minimnya sumber daya manusia, khususnya tim penyidik KPK.

Lebih lanjut, Misbah menyarankan agar tim penyidik KPK ditambah. ”Makanya ke depan KPK perlu memikirkan kebutuhan berapa penyidik yang dibuthkan oleh KPK sehingga itu menjadi grand desain pemberantasan atau pencegahan korupsi,” paparnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya akan mempelajari laporan dugaan korupsi di PT KBN. Namun sampai saat ini, KPK belum menjadwalkan pemeriksaan saksi-saksi terkait dugaan korupsi di PT KBN tersebut.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan.H.P