• News

  • Hukum

Korban Bom Samarinda Meninggal: Pelakunya Biadab dan Tak Beragama

Polisi menjaga lokasi gereja tempat meledaknya bom molotov, di Samarinda, Minggu (13/10/2016). (Rappler)
Polisi menjaga lokasi gereja tempat meledaknya bom molotov, di Samarinda, Minggu (13/10/2016). (Rappler)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pelaku bom Samarinda yang menyebabkan korban balita ,meninggal, biadab, tak berperi kemanusiaan, dan tak beragama. Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Demokrat Khotibul Umam Wiranu mengecam pelemparan bom diduga molotov oleh seseorang ke Gereja Oikumene, Samarinda,Kaltim, Minggu (13/11/2016).

"Saya mengecam dan mengutuk keras aksi pengeboman Gereja Oikumene Samarinda, yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang tidak berperikemanusiaan, tidak beradab, dan tidak beragama. Tindakan mereka bertentangan dengan Pancasila, agama, konstitusi negara serta undang-undang," tegas Khotibul Umam di Jakarta, Senin.

Dia menyesalkan untuk kesekian kali bangsa Indonesia harus menghadapi ujian berat aksi terorisme yang kali ini terjadi dalam bentuk pengeboman di sekitar Gereja Oikumene Samarinda.

Menurut dia peristiwa tersebut sungguh sangat memilukan, menyedihkan, dan menyayat hati bangsa Indonesia, terlebih dengan adanya korban balita meninggal dunia dan beberapa terluka.

"Saya meminta pihak kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya untuk secepatnya memproses hukum bagi para pelaku pengeboman, serta pembuat skenario pengeboman, menghukum mereka seberat-beratnya sesuai undang-undang Anti Terorisme serta undang-undang lain yang berlaku," ujar dia.

Menurut Ketua Departemen Agama DPP Partai Demokrat itu, pelaku dan perencana tindakan pengeboman ini jelas punya motif mengadu domba antarpemeluk agama yang berbeda, serta membuat situasi sosial masyarakat saling curiga, dan bisa menciptakan konflik sosial yang lebih luas.

"Aparat penegak hukum harus menemukan jejaring, mata rantai, kelompok ini secara tuntas, agar tidak terjadi aksi pengeboman di tempat-tempat lain," jelas dia.

Khotibul Umam menilai aksi teror yang kembali mengemuka ini menjadi pekerjaan pemerintah yang harus segera dituntaskan. Tindakan kekerasan dan aksi terorisme yang bersumber dari pemahaman keagamaan yang ekstrem harus dapat diantisipasi oleh pemerintah, serta dicarikan jalan keluarnya.

"Pendekatan persuasif, serta pendidikan keagamaan yang benar, menjadi pilihan yang harus diutamakan oleh pemerintah," ujar dia.

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Antara