• News

  • Internasional

Investigasi Pembunuhan Muslim Rohingya, Dua Wartawan Reuters Ditahan di Myanmar

Dua wartawan Reuters ditahan di Myanmar.
Evening Report
Dua wartawan Reuters ditahan di Myanmar.

YANGON, NNC - Puluhan orang berpawai melintasi Yangon, kota terbesar di Myanmar pada Sabtu (1/9/2018), menyeru pemerintah agar membebaskan dua wartawan Reuters yang sedang diadili atas tuduhan mengumpulkan rahasia-rahasia negara, dan menuntut kebebasan pers.

Para pengunjuk rasa yang berpakaian hitam berpawai dengan membawa bendera-bendera, spanduk dan balon-balon dengan cetakan wajah dua wartawan Reuters yang ditahan - Wa Lone dan Kyaw Soe Oo.

Mereka meneriakkan, "Hak ingin tahu berita! Hak rakyat! Hak rakyat!" Beberapa membawa spanduk bertuliskan "Bebaskan segera wartawan-wartawan yang ditahan. Bebaskan segera mereka." Satu pengadilan Yangon pada Senin (3/9/2018) dijadwalkan mengeluarkan putusan atas Wa Lone, 32 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, yang didakwa berdasarkan Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial.

Pendukung kebebasan pers, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan negara-negara termasuk Amerika Serikat, Kanada dan Australia menyerukan pembebasan wartawan Reuters.

Myo Myint Maung, Sekretaris Tetap untuk Kementerian Informasi mengatakan kepada Reuters lewat telepon: "Tak masalah Anda berada di pihak mana, kebebasan pers penting." "Dalam situasi saat ini, Anda bisa mengatakan bahwa kami memilikinya (kebebasan pers) tetapi ada hal yang bisa kita perbaiki."

Juru bicara pemerintah Zaw Htay di masa lalu mengatakan tentang kasus yang dialami Wa Lone dan Kyaw So on bahwa pengadilan-pengadilan Myanmar independedn dan perkara itu akan diproses sesuai undang-undang.

Pada saat penangkapan mereka, para wartawan itu sedang bertugas untuk menyelidiki pembunuhan 10 pria Muslim Rohingya dan anak-anak di sebuah desa di Negara Bagian Rakhine, di bagian barat Myanmar.

Pembunuhan-pembunuhan itu berlangsung ketika tentara melancarkan penumpasan yang badan-badan PBB katakan lebih 700.000 orang melarikan diri ke Bangladesh, melansir Antara.

Editor : Lince Eppang