• News

  • Internasional

Dituding Halangi Bantuan, Menlu Iran Sebut AS ‘Terorisme Ekonomi‘

Banjir yang menerjang Provinsi Golestan, Iran
dok.vaticannews
Banjir yang menerjang Provinsi Golestan, Iran

IRAN, NETRALNEWS.COM -- Menteri luar negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuduh AS sebagai "terorisme ekonomi" atas "tekanan" untuk menghalangi upaya bantuan oleh Bulan Sabit Merah Iran.

Hujan deras menyebabkan banjir hebat pada 26 Maret 2019 lalu. Banjir itu telah menghancurkan lebih dari 25.000 rumah di Iran dalam waktu kurang dari dua minggu, kata Hadi Derafshi, seorang pejabat di Yayasan Perumahan Iran kepada wartawan, Senin (1/4/2019).

"Lebih dari 60.000 rumah lagi telah rusak oleh banjir dan membutuhkan perbaikan," tambahnya.

Dilansir dari TeleSUR, di tiga kota di provinsi barat, warga menerima perintah untuk segera melakukan evakuasi, ketika banjir membanjiri Khorramabad, ibukota provinsi Lorestan. Bandara kota itu juga tenggelam dan semua penerbangan ke dan dari Khorramabad telah dibatalkan, kata pejabat itu.

"Telepon tidak berfungsi, komunikasi radio kami turun ... pada saat ini kami tidak memiliki berita tentang kota dan desa lain," katanya kepada IRINN, menambahkan jalan-jalan banjir dan helikopter tidak dapat lepas landas karena cuaca buruk.

"Kami telah meminta bantuan darurat dari provinsi tetangga tetapi saat ini, tidak ada yang bisa melakukan apa pun."

Banjir berlanjut di seluruh Iran sepanjang hari Minggu, sebagian besar di Iran utara, barat dan tengah.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran melaporkan setidaknya 45 orang tewas.

Menteri luar negeri Iran Mohammad Javad Zarif twitted bahwa sanksi itu "menghalangi upaya bantuan oleh Bulan Sabit Merah Iran untuk semua masyarakat yang hancur oleh banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peralatan yang diblokir termasuk helikopter bantuan. Ini bukan hanya perang ekonomi; ini juga ekonomi TERORISME."

Donald Trump meninggalkan perjanjian nuklir multi-lateral pada tahun 2017 yang ditandatangani dengan Iran dan mengembalikan sanksi yang telah dicabut berdasarkan perjanjian.

Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya