• News

  • Internasional

Mengapa Paus Fransiskus Izinkan Perubahan Doa Bapa Kami?

Paus Fansiskus
Netralnews/Dok.Istimewa
Paus Fansiskus

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Bagi umat Katolik, doa Bapa Kami atau Lord's Prayer sangatlah penting sebagai dasar iman mereka. Doa ini diajarkan oleh Yesus sebelum ia wafat di kayu salib.

Doa Bapa Kami adalah doa singkat, indah, sederhana, dan sempurna. Dalam doa ini, semua umat manusia diundang untuk menjadi “anak” dan mengimani Allah sebagai “Bapak”. Relasi “anak” dan “Bapak” di sini menjadi simbol betapa besar cinta Tuhan.

Baru-baru ini, teks doa Bapa Kami sedang ditinjau ulang oleh Gereja Katolik. Tentu, ada maksudnya yakni agar hakikat doa yang diajarkan Yesus tidak menyimpang.

Menanggapi usulan perubahan tersebut, pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus dilaporkan telah mengizinkan adanya perubahan kalimat dalam Doa Bapa Kami.

Seperti dilansir UCatholic via Daily Wire, Senin (3/6/2019), perubahan itu diputuskan dalam Sidang Umum Konferensi Episkopal yang diadakan di Italia pada 22 Mei 2019.

Presiden Kardinal Gualtiero Bassetti mengumumkan dalam sidang tentang adanya pengesahan terjemahan edisi ketiga Messale Romano yang mencakup Doa Bapa Kami dan Gloria.

Hal ini tentunya patut untuk dicermati oleh seluruh umat Katolik. Adapun kalimat yang diubah adalah "dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan" menjadi "dan jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan".

Gagasan tentang perubahan ini sebenarnya sudah disampaikan Paus Fransiskus sejak Desember 2017. Ia merasa tidak nyaman dengan terjemahan yang sebelumnya berlaku.

Menurutnya, kalimat lama yang sebelum seolah-olah mengatakan bahwa Tuhan sengaja memberi pencobaan kepada umat manusia. Dalam konteks ini, Tuhan bermakna negatif.

"Saya sendiri yang terjatuh. Dia (Tuhan) tentu tidak akan dengan sengaja mendorong saya ke dalam pencobaan hanya untuk melihat seberapa jauh saya terjatuh," beber Fransiskus.

Doa Bapa Kami yang selama ini digunakan adalah hasil terjemahan yang diberlakukan sejak tahun 1966 yakni melalui Konsili Vatikan II. Kala itu, Konsili memutuskan agar ada doa Bapa Kami yang bisa digunakan sehari-hari dan tidak harus menggunakan Bahasa Latin.

Bahasa dalam doa Bapa Kami sebelum diterjemahkan dalam Bahasa Latin adalah Bahasa Yunani. Sedangkan bahasa asli dari doa Bapa Kami adalah Bahasa Aramic, yakni yang digunakan pertama kali oleh Yesus. Artinya, perlu kehati-hatian dalam melakukan terjemahan.

Konon, hal paling sulit yang dialami para penerjemah adalah ketika harus menerjemahkan “peirasmos”. Peirasmos dalam bahasa Yunani bisa berarti pencobaan, atau sebuah ujian.

Untuk menerjemahkan kata itu, pihak Gereja Katolik telah melakukan kajian selama 16 tahun. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya kesalahan secara teologis, pastoral, dan tentu agar tidak menimbulkan polemik bagi umat Katolik di dunia.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?