• News

  • Internasional

Perwira Militer Disuruh Copot Jilbab, Tak Diduga Begini Reaksi Rakyat Afsel

Ilustrasi tentara Afrika Selatan
dok.africanews
Ilustrasi tentara Afrika Selatan

JOHANNESBURG, NETRALNEWS.COM - Rakyat Afrika Selatan menyampaikan kemarahan mereka setelah militer melakukan tindakan disipliner terhadap seorang perempuan perwira senior karena ia memakai jilbab di bawah baret militernya.

Mayor Fatima Isaac (47) didakwa di satu pengadilan militer di Cape Town pada Selasa (25/6) karena mengabaikan perintah agar tidak memakai jilbab saat mengenakan seragam.

"Kami telah mengirim surat kepada Menteri Pertahanan untuk menyampaikan keprihatinan kami dan keberatan atas masalah ini. Kami percaya ini inkonstitusional. Itu bertolak-belakang dengan semangat dan isi undang-undang dasar kami," kata Faisal Suliman, Ketua Jaringan Muslim Afrika Selatan (SAMNET) kepada Kantor Berita Turki, Anadolu, Selasa malam.

Suliman mengatakan ia percaya tindakan disilipner terhadap Fatima menghalangi pembangunan masyarakat yang multi-plural.

"Kami percaya jilbab tidak mencampuri urusan seragam dan juga tidak kemampuan Mayor Fatima atau orang lain," kata Suliman, sebagaimana dikutip Anadolu, Jumat (28/6/2019).

Ia juga mendesak Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan (SANDF) agar melakukan perubahan yang diperlukan pada kode etik berpakaiannya untuk mengakomodasi semua kelompok kepercayaan.

Fatima telah bekerja sebagai ahli patologi forensik di satu rumah sakit militer di Cape Town, tempat ia telah memakai jilbab selama bertahun-tahun, kendati ada perintah untuk membukanya.

Namun pekan lalu, perwira itu menerima peringatan tertulis terakhir dan pekan ini dihadirkan di pengadilan militer.

Kepala Royal House of Mandela juga mengeluarkan pernyataan yang mengutuk peristiwa tersebut.

"Tak terbayangkan Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan akan menolak hak seorang pegawai untuk melaksanakan kebebasan agamanya untuk memakai jilbab," katanya.

Royal House of Mandela juga menteri Menteri Pertahanan agar menyisihkan tindakan disipliner terhadap Fatima, dan mengatakan itu adalah fitnah nyata terhadap hak Fatima untuk melaksanakan kebebasan agamanya, demikian diberitakan Antara.

Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya