• News

  • Internasional

Bank Dunia Perkirakan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Terus Melambat hingga 2021

Kantor Bank Dunia.
CBN
Kantor Bank Dunia.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bank Dunia memperkirakan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik melambat jadi 5,9 persen pada 2019 dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 6,3 persen.

Perlambatan ini menurut Bank Dunia akan terus berlanjut pada 2020 dan 2021 yang mana per ekonomian di kedua kawasan tersebut melorot masing-masing menjadi 5,7 persen dan 5,6 persen.

Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang melambat ini akibat kelesuan ekonomi global yang ditandai oleh pelemahan permintaan termasuk dari Tiongkok. Selain itu juga disebabkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat (AS) - Tiongkok yang semakin tidak pasti. Dua permasalahan itu menyebabkan penurunan ekspor, investasi pada negara - negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Akibat perlambatan ekonomi ini, sangat berpengaruh kepada tingkat penurunan kemiskinan.

"Kami perkirakan hampir seperempat penduduk di kawasan negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan kelas menengah ke atas sebesar USD5,50 per hari. Ini mencakup hampir 7 juta orang lebih dari yang kami proyeksikan pada bulan April ketika pertumbuhan kawasan terlihat lebih kuat," kata Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam keterangannya, Kamis (10/10/2019).

Dalam analisis Bank Dunia, perlambatan pertumbuhan PDB di China terjadi dari 6,6 persen pada tahun 2018 menjadi 6,1 persen pada tahun 2019 ini. Sementara di tahun 2020 diperkirakan kembali melambat ke level 5,9 persen dan 5,8 persen pada 2021. Untuk Indonesia pada periode yang sama dinyatakan pertumbuhan PDB melambat dari 5,2 persen (2018) menjadi 5 persen (2019). Sementara di tahun 2020 diproyeksikak meningkat menjadi 5,1 persen dan 5,2 persen pada 2021.

PDB Malaysia tumbu melambat dari 4,7 persen (2018) menjadi 4,6 persen pada 2019. Sementara di tahun 2020 dan 2021 diperkirakan stagnan di level 4,6 persen. Di Filipina juga turun dari 6,2 persen menjadi 5,8 persen. Dan di tahun 2020 diperkirakan oleh Bank Dunia menjadi 6,1 persen dan 6,2 persen pada 2021.

Sementara negara-negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik juga terlihat melambat pada 2019 ini, namun beberapa negara lainnya ada yang justru tumbuh hingga 2021 seperti Timor Leste.

Dijelaskam oleh Bank Dunia bahwa perlambatan ekonomi di Tiongkok yang terjadi lebih cepat dari perkiraan semakin melemahkan permintaan ekspornya. Hal itu diperparah oleh perkembangan di kawasan Euro dan Amerika Serikat serta Brexit yang kacau.

Untuk menghadapi risiko yang terus meningkat, negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik menggunakan langkah-langkah fiskal atau moneternya untuk membantu merangsang ekonomi. Di saat yang sama pemerintah perlu menjaga kesinambungan fiskal dan utangnya.

Ekonom Utama Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Andrew Mason, menambahkan bahwa dari sudut pandang Bank Dunia, berbagai kondisi regional dan global yang terjadi tersebut akan menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara yang berada di dalam kawasan Asia Timur dan Pasifik. Oleh sebab itu perlu upaya yang lebih konkret dari pemerintah untuk menjaga situasi ekonomi khususnya yang disebabkan dari faktor domestik agar tidak semakin memburuk.

"Ketika perusahaan - perusahaan mencari cara untuk menghindari tarif, akan sulit bagi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk menggantikan perang Tiongkok dalam rantai produksi global dalam jangka pendek karena infrastruktur yang tidak memadai dan skala produksi yang kecil," kata Andrew.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Widita Fembrian