• News

  • Kesehatan

Pasokan Obat-obatan ke Tanzania Resmi Diantar dengan Drone

Pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh Indonesia mampu terbang 24 jam.
Defense World
Pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh Indonesia mampu terbang 24 jam.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pesawat tanpa awak atau biasa disebut drone akan mengantarkan obat-obatan di wilayah Afrika Timur, Tanzania.

Perusahaan drone, Zipline asal California, AS itu akan melakukan 2.000 pengiriman per harinya ke lebih dari 1.000 fasilitas kesehatan di timur benua Afrika.

Fasilitas kesehatan diantaranya, persediaan darah, vaksin, serta obat-obatan anti malaria dan AIDS. Proyek pengiriman ini sebelumnya pernah berhasil dilakukan dalam skala yang lebih kecil di Rwanda.

Kutip VOA, Rabu (6/9/2017) seorang bernama Lilian Mvule, pria berusia 51 tahun, mengingat-ngingat ketika cucunya meninggal akibat malaria dua tahun lalu. Cucunya kala itu membutuhkan pasokan darah golongan O dalam waktu singkat, namun saat itu tidak tersedia.

Di wilayah ini, penyakit Malaria pembunuh utama di Tanzania. Hingga anak-anak balita acap kali membutuhkan transfusi darah ketika mereka mulai mengalami tekanan darah rendah yang disebabkan oleh malaria.

Luas Tanzania lebih besar ketimbang Nigeria dan empat kali lebih besar dari Inggris. Hal ini  kendala bagi pemerintah yang kekurangan dana tunai untuk memastikan klinik yang jumlahnya mencapai 5.000 lebih di negara itu,

Untuk diketahui, Tanzania memiliki tingkat kematian tertinggi di antara ibu yang baru melahirkan, dengan rasio kematian 556 orang untuk setiap 100.000 proses melahirkan.

“Ini adalah permasalahan pasokan yang dapat kita pecahkan, dengan menggunakan drone berdasarkan permintaan. Bangsa-bangsa Afrika menunjukkan kepada dunia cara melakukannya,” ujar CEO Zipline, Keller Rinaudo, mengutip laman tersebut.

Berbagai perusahaan di Amerika Serikat dan tempat lainnya sangat ingin untuk menggunakan drone untuk mengurangi waktu dan biaya pengiriman, namun ada hambatan yang berkisar antara tabrakan dengan pesawat hingga masalah keamanan dan daya tahan baterai.

Inisiatif ini juga bisa meredakan ketegangan antara pasien yang merasa frustrasi dengan para pekerja kesehatan.

“Kami selalu menuduh para perawat mencuri obat-obatan. Kami tidak sadar bahwa obat-obatan itu tidak dapat mencapai kawasan ini tepat waktu karena kondisi infrastruktur jalan yang buruk,” ujar Angela Kitebi, yang tinggal 40 kilometer sebelah timur Dodoma.

Reporter : Vito Adhityahadi
Editor : Lince Eppang