• News

  • Kesehatan

Hari Kesehatan Mental Sedunia, Begini Sejarahnya

Banyak penderita gangguan kejiwaan di Indonesia, dipasung oleh keluarga.
Dok Kemenkes
Banyak penderita gangguan kejiwaan di Indonesia, dipasung oleh keluarga.

JAKARTA, NETRALNEW.COM - Hari ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Kondisi Kesehatan Mental seperti depresi, kegelisahan, perubahan suasana hati, dan stres telah menjadi isu umum saat ini, mengingat kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan yang kita jalani.

Gangguan jiwa ini tidak hanya berdampak pada kemampuan kita untuk bekerja secara produktif, tapi juga menghancurkan kehidupan sosial dan pribadi kita. Menurut organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 300 juta orang menderita depresi. Lebih dari 260 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan dan kebanyakan hidup dengan kedua kondisi ini.

WHO memperingati Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran seputar kesehatan mental dan memobilisasi usaha untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik.

Perayaan ini pertama kali diinisiasi oleh World Federation for Mental Health pada tahun 1992, dengan membawa misi untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa.

Di Indonesia, seperti dilansir laman UGM, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia baru mulai ditetapkan pada tahun 1993. Misi yang dibawa adalah untuk menghormati hak ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), memperluas program pencegahan masalah kesehatan jiwa, mendekatkan akses kesehatan pada masyarakat, memperluas cakupan pelayanan, dan meningkatkan upaya kesehatan jiwa secara optimal.

Sungguh suatu misi yang luar biasa, tapi ternyata misi yang dicanangkan pada tahun 1993 ini pun masih menjadi misi yang harus diperjuangkan di tahun 2013.

Di zaman ponsel pintar seperti sekarang, realitanya masih banyak masyarakat Indonesia yang masih awam tentang kesehatan jiwa. Masih lebih banyak orang yang mengabaikan pentingnya menimbang, mengupayakan dan mempertahankan kesehatan jiwa dan mental dibandingkan dengan kesehatan fisik.

Sebagian anggota masyarakat baru akan memperhatikan masalah kesehatan jiwa dan mental, hanya disaat mereka dihadapkan pada gangguan kesehatan mental dan jiwa.

Editor : Lince Eppang