• News

  • Kesehatan

Waspada, Pewangi Ruangan dan Obat Nyamuk Semprot Bisa Picu Kanker Paru

Pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot bisa picu kanker paru.
Travelclinic
Pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot bisa picu kanker paru.

JAKARTA, NNC - Pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot pasti sudah tidak asing lagi digunakan dalam kehidupan berumah tangga. Lantas, tahukah  Anda bahwa kerap menggunakan pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot dalam jangka waktu panjang dapat pengaruhi kesehatan Anda?.

Kasubdit Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Niken Wastu Palupi mengungkapkan, pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot mengandung berbagai zat kimia. Zat kimia ini dikatakan dapat mempengaruhi faktor-faktor kesehatan saluran pernapasan.

"Ditakutkan ini bisa terjadi kanker paru-paru karena terjadinya iritasi di saluran nafas. Iritasi ini bisa terjadi karena paparan zat kimia produk tersebut di saluran nafas dan terjadilah rangsangan sel-sel kanker," jelas Niken pada NNC baru-baru ini di Jakarta.

Lebih lanjut Niken jelaskan bahwa setiap orang memiliki sel kanker. Tergantung dari tiap orang, apakah tetap menidurkan sel kanker dengan melakukan pola hidup sehat atau membangunkan sel kanker dengan melakukan pola gaya hidup tak sehat, salah satunya seperti merokok.

"Penggunaan zat kimia akan sebabkan iritasi juga (pada saluran nafas). Itu (pewangi ruangan dan obat nyamuk semprot) masuk sebagai salah satu polutan, jadi disarankan jangan sampai menghirupnya langsung. Maka kalau habis menyemprot disarankan keluar dari ruangannya dulu," pesan Niken.

Untuk diketahui, sebanyak 20 persen pasien  kanker di Indonesia merupakan pasien dengan kanker paru, sehingga menjadikan kanker paru sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Umumnya, kanker paru disebabkan oleh beberapa faktor seperti perubahan genetik atau gaya hidup yang tidak  sehat.

Kanker paru juga merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan penanganan medis secara intensif. Lebih dari 90 persen pasien yang datang ke rumah sakit telah didiagnosa pada stadium lanjut.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani