• News

  • Kesehatan

Bukan Air Seni, Begini Cara Penanganan Saat Tersengat Ubur-ubur

Golongan irukanji atau carukia barnest box jellyfist yang hanya ada single tentakel bisa membunuh hewan.
GMA Network
Golongan irukanji atau carukia barnest box jellyfist yang hanya ada single tentakel bisa membunuh hewan.

JAKARTA, NNC - Pakar Toksikologi Dr dr Tri Maharani MSi SpEM menjelaskan, sebuah filum yang terdiri dari lebih dari 10.000 spesies hewan sederhana yang hanya ditemukan di perairan, kebanyakan lingkungan laut (cnidarians) dibagi atas empat kelas.

Dimana salah satu kelasnya adalah cubozoa, contohnya box jellyfish dan scyphozoa, yakni true jellyfish seperti sea nettles dan lion mane jellyfish.

Pernyataan ini disampaikan Dr Tri menyusul kasus terjadinya, sekitar 20 wisatawan yang tersengat ubur-ubur di Pantai Batu Karas di Pangandaran, Jawa Barat. Selain itu ada puluhan orang juga tersengat ubur-ubur di kawasan Pantai Selatan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta pada Minggu (24/6/2018) lalu.

"Golongan irukanji atau carukia barnest box jellyfist yang hanya ada single tentakel bisa membunuh hewan. Pada pasien irukandji sindrome ada kram otot berat, mual, muntah, hipertensi sampai gagal jantung akut," jelas dokter yang juga merupakan Penasihat Gigitan Ular World Health Organization (WHO) pada NNC, Rabu (27/6/2018).

Dijelaskan Dr Tri, penanganan awal yang benar adalah dengan  pemberian cuka atau baking soda untuk melepaskan tentakelnya. Memberi obat nyeri juga sangat dibutuhkan, karena rasa disengat ubur-ubur tersebut sangat nyeri.

Selain itu, cuka mengandung acetic acid, dimana memudahkan melepas tentakel sehingga nematokis (bagian tentakel) tidak lagi menembakkan racunnya. Bahkan bila gunakan air panas justru menambah terjadinya luka bakar, sedangkan yang lain dari air panas seperti es atau urine ternyata kurang efektif melepaskan tentakel.

"Perlu juga dilakukan monitoring Elektrokardiogram (EKG), tensi dan juga laboratorium lengkap seperti melihat fungsi ginjal, darah dan saturasi oksigen. Bagi para dokter diperlukan penanganan airway , breathing, circulasi juga disability," jelas Dr Tri.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang