• News

  • Kesehatan

PDPI: Rokok Elektronik Menimbulkan Kerusakan Sel

Ilustrasi rokok elektrik
dok.Medical News Today
Ilustrasi rokok elektrik

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Pokja Masalah Rokok Pehimpunan Dokter Paru Indonesia dr Feni Fitriani Sp P(K) mengatakan, rokok elektronik bisa menimbulkan kerusakan sel. Rokok elektronik sendiri merupakan alat yang berfungsi mengubah zat-zat kimia menjadi bentuk uap dan mengalirkannya ke paru dengan menggunakan tenaga listrik.

Kata dr Feni, World Health Organization (WHO) mengistilahkan rokok elektronik sebagai Electronic Nicotine Delivery System (ENDS). WHO menyebutkan belum cukup bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat vape.

Rokok Elektronik dipaparkan mengandung nikotin dan bahan karsinogen seperti propylene glycol, glycerol, formaldehid, nitrosamine dan lain-lain. Selain itu, terkandung pula bahan toksik lain seperti logam berat/ heavy metal, silikat, nanopartikel dan Particulate Matter (PM).

"Kandungan ini merangsang iritasi dan peradangan serta menimbulkan kerusakan sel. Rokok elektronik berpotensi menimbulkan adiksi, menimbulkan risiko kanker serat risiko kesehatan lainnya pada manusia," kata dr Feni, seperti dikutip dari paparannya dalam konferensi pers terkait Rokok Elektronik, Selasa (14/5/2019).

Kata de Feni, konsep awal rokok elektronik ada sejak tahun 1965 melalui paten yang didaftarkan oleh Herbert A Gilbert namun produksi secara massal adalah berdasarkan paten oleh Hon Lik di Tiongkok tahun 2003 dan mulai beredar secara internasional tahun 2004.

Pada November 2017, Kemendag sendiri telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 86 tertanggal 10 November 2017 yang mengatur Impor Rokok elektronik, dan menetapkan persyaratan mendapatkan ijin impor, salah satunya adalah rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Namun 10 hari kemudian terbit surat penundaan keberlakuan Permendag no 86/2017 oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rl. Sehingga saat ini, tidak ada aturan yang mengatur rokok elektronik," tegas dia.

Analisis terhadap sembilan studi lungitudinal yang dilakukan pada Februari 2017 di US juga menunjukkan: remaja yang mulai merokok dengan vape akan menjadi perokok konvensional di kemudian hari.

Jumlah pengguna remaja yakni: Indonesia 0,3% (2011)3, Korea 9,4% (2014), Inggris 18% (2014)5, Amerika 13,45% SMA dan 3,9% SMP (2013).

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya