• News

  • Kesehatan

Tak Hanya Paru, Ini Organ Tubuh yang Berisiko Rusak Akibat Rokok Elektronik

Ilustrasi Rokok Elektrik
Faktual
Ilustrasi Rokok Elektrik

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ketua Umum Pengururs Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Sally Aman Nasution SpPD-KKV, FINASIM, FACP mengatakan, pajanan terhadap rokok elektronik akan mempengaruhi gen sirkadian molekular yang mengatur ritme dan fisiologis tubuh manusia. Beberapa zat yang terdapat di dalam rokok elektronik termasuk nikotin akan memengaruhi fungsi dari endotel yang terdapat di seluruh tubuh manusia.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat ditegaskan bahwa rokok elektronik tak hanya memberikan dampak pada organ paru, seperti yang biasanya kita dengar. Rokok elektronik juga bisa berdampak pada organ tubuh manusia lainnya.

“Perubahan gen sirkadian molekular dan disfungsi endotel ini akan berpengaruh terutama terhadap sistem pernapasan seperti paru, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada organ lain. Kerusakan organ diantaranya organ jantung, hati, ginjal, otot rangka, otak, sistem imunitas dan memicu timblnya beberapa jenis kanker tertentu,” jelas dr Sally, dikutip dari paparannya, Senin (3/6/2019).

Sistem tubuh lain yang aan terpengaruh selain paru dan jantung antara lain sistem pencernaan, syaraf, hemostasis yakni mekanisme alami dari tubuh untuk menghentikan kehilangan darah yang berlebihan, imunitas, karsinogenesis dan lain-lain.

Pada sistem pencernaan akan berdampak kolitis ulseratif atau penyakit radang usus kronis, necotrizing enterocolitis atau infeksi dan pembengkakan pada perut. Pada sistem persyarafan bisa berdampak pada sakit kepala, gangguan memori dan spasme otot.

Pada sistem hemostasis bisa berdampak pada induksi stres oksidatif yang berakibat meningkatkan risiko trombosis atau proses koagulasi dalam pembuluh darah yang berlebihan, sehingga menghambat aliran darah, atau bahkan menghentikan aliran tersebut.

Pada sistem imunitas, akan berdampak pula pada efisiensi sistem imun yang menurun, sehingga mudah terkena infeksi terutama infeksi virus. Selain itu, aktivasi efek proinflamasi, seperti respon autoimun.

“Ada pula risiko karsinogenesis. Ini memicu menimbulkan kanker atau keganasan tertentu, terutama pada paru, mulut dan tenggorokan,” tegas dia.

Dampak lain diantaranya, iritasi okular, mulut dan tenggorokan, dermatitis kontak dan mual, serta muntah.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli