• News

  • Kesehatan

Nikotin Rokok Elektronik Beri Dampak terhadap Otak

Penggunaan rokok elektrik.
BBC
Penggunaan rokok elektrik.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rokok elektronik kini sedang gandrung di tengah kalangan anak muda. Rokok elektonik menjadi pilihan para perokok sebagai pengganti penggunaan rokok tembakau.

Tapi tahukah Anda, rokok ternyata dapat memberikan dampak terhadap otak dari kandungan nikotinnya?. Demikian dikatakan dr Adhi Wibowo Nurhidayat SpKJ(K) MPH dari Intitute of Mental Health, Addiction, and Neuroscience, baru-baru ini di Jakarta.

"Ada dampak nikotin pada rokok elektronik terhadap otak. Ibu hamil yang terpapar asap rokok elektronik, akan terganggu perkembangan kognitif dan perilaku janin yang dikandungnya," kata dr Adhi.

Sementara kandungan nikotin di dalam rokok elektronik dapat mengarah pada adiksi atau kecanduan jangka panjang pada perokok pemula di usia remaja.

Dipaparkan, terjadi peningkatan yang besar pada jumlah pengguna rokok elektronik. Pada anak SMA: 20,8 persen di tahun 2018 dibandingkan dengan 11,7 persen di tahun 2017. Pada anak SMP: 3,3 persen di tahun 2018 dibandingkan dengan 4,9 persen di tahun 2017.

"Semua rokok elektronik mengandung nikotin, zat yang amat adiktif atau membuat kecanduan. Contoh rokok elektronik termasuk e-pipes, eshishas, dan e-cigars," jelas dia.

Menurutnya, rokok elektronik menjadi cara masuk baru beragam jenis narkoba. Sebagai contoh, systematic review yang pada awalnya mengambil 1603 penelitian, akhirnya mengambil 38 penelitian sebagai acuan. Yang diteliti adalah jenis narkoba, dosis yang dibutuhkan untuk timbulnya toksisitas, efek toksis, dan penggunaan rokok elektronik sebagai media/alat menggunakan narkoba tersebut.

"Dari 861 responden yang diteliti, 39,5 persen mengunakan rokok elektronik untuk menghisap narkoba," kata dr Adhi.

Jenis narkoba yang dikonsumsi menggunakan rokok elektronik adalah: Ganja ( 18%), ekstasi /MDMA (11.7%), bubuk kokain(10.9%); kokain crack (8.4%); katinonan sintetis, mefedron (8.5%) dan a-PVP (7.1%); ganja sintetis (7.8%); opioid, heroin (7.1%) dan fentani| (7.3%); dan narkoba lainnya termasuktriptamin dan ketamin.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian