• News

  • Kesehatan

Survey Reckitt Benckiser: Anak Muda Takut Dihakimi Ortu Saat Ingin Tahu soal Seksual

Head of Corporate Social Responsibility (CSR) RB Indonesia, Helena Rahayu Wonoadi.
NNC/Martina Rosa
Head of Corporate Social Responsibility (CSR) RB Indonesia, Helena Rahayu Wonoadi.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Reckitt Benckiser (RB) sebagai perusahaan untuk merek produk perlengkapan rumah tangga, perawatan kesehatan dan pribadi mengumumkan survey pendidikan kesehatan seksual melalui alat kontrasepsi, Durex.

Penelitian ini mencakup lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Yogyakarta pada 500 remaja. Penelitian mengungkapkan bahwa sebesar 61 persen anak muda merasa takut dihakimi oleh orang tua mereka ketika mereka ingin bertanya tentang pendidikan seksual.

“Dari 500 anak, 61 persen diantaranya mengaku merasa takut dihakimi oleh orang tua mereka ketika mereka ingin bertanya tentang pendidikan seksual. Mereka lebih nyaman berbicara pada teman, baru ke orang tua mereka” kata Head of Corporate Social Responsibility (CSR) RB Indonesia, Helena Rahayu Wonoadi saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Survey menunjukkan, ketika mengalami tanda pubertas pertama kali, mayoritas responden remaja memilih orang tua (52%) sebagai sumber informasi utama mereka untuk berkonsultasi dan mendiskusikan pengalaman pertama mereka.

“Sayangnya, seiring berjalannya waktu, ketika responden kaum muda telah melewati tanda pubertas pertama, yaitu mimpi basah untuk anak laki-laki dan periode hari pertama haid untuk anak perempuan, mereka menjadi lebih nyaman membahas reproduksi kesehatan dan topik pendidikan seksual dengan teman atau teman sebaya,” jelas dia.

Hasil survei tentang kaum muda ini juga menunjukkan kurangnya informasi dan pengetahuan tentang STD (Penyakit Menular Seksual) dan bagaimana cara mencegahnya. Mayoritas pemuda (95%) telah mengetahui tentang Penyakit Menular Seksual (PMS), namun pengetahuan dan pemahaman mereka hanya terbatas pada HIV/AIDS, sementara penyakit menular lainnya kurang dipahami, Kencing nanah (Gonorrhea) (33%), Sipilis (Syphilis) (38%), Herpes atau HPV (54%), dan infeksi jamur Candida (Candidiasis) (57%).

Temuan lain mengungkapkan bahwa 57% anak-anak muda sepakat bahwa sekolah secara proaktif telah mengedukasi dan memberikan informasi tentang pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi, termasuk tentang PMS.

Ironisnya, 73% responden anak-anak muda merasa topik tentang pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi dari sekolah belum memadai.

Menurut Helena, ada kebutuhan mendesak untuk memberdayakan keluarga di Indonesia agar mengambil peran dan menjadi sumber informasi yang paling tepercaya bagi anak-anak mereka dan remaja terkait pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi.

Dalam hal ini, sangat penting bagi orang tua untuk bersikap lebih terbuka dan ramah serta mengubah cara mereka mendidik dan berkomunikasi agar remaja merasa nyaman.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P