• News

  • Kesehatan

Kenali Kanker yang Hanya Terjadi pada Laki-laki Ini

Kankar prostat hanya terjadi pada pria.
Cancer
Kankar prostat hanya terjadi pada pria.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Staf Medik Departemen Urologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid Sp U(K), Ph D mengatakan, kanker prostat merupakan salah satu kanker terbanyak pada laki-laki di dunia. Diketahui, kelenjar prostat hanya ada pada laki-laki dan tidak pada perempuan.

Tercatat, kanker prostat berada diurutan ke empat terbanyak di dunia dan nomor dua kanker paling banyak yang diidap dikalangan laki-laki.

Apabila di Indonesia, secara keseluruhan kanker prostat menduduki posisi kelima dan menduduki posisi ke 3 kanker yang diidap dikalangan laki-laki.

"Pada stadium awal, tidak terlihat ada gejalanya dan tidak ada keluhan. Biasanya tanda berupa sering buang air kecil dan apabila metastasis baru terasa," kata dr Agus saat konferensi pers peluncuran Prostate Center di RSCM, Senin (5/8/2019).

Selain buang air kecil, gejala lain dari kanker prostat adalah buang air kecil yang berkemih, sakit pinggang, hingga sakit tulang, maka diperlukan deteksi dini.

"Disarankan deteksi dini dilakukan diatas usia 50 tahun. Terutama apabila ada keluhan gangguan berkemih atau usia diatas 45 tahun apabila ada riwayat kanker prostat dalam keluarga," jelas dia.

Pada deteksi dini dilakukan dengan tiga cara, diantaranya colok dubur, pemeriksaan darah atau Prostate Specific Agent (PSA), dan biopsi prostat.

"Biopsi prostat dilakukan untuk mengambil sampel dari jaringan prostat. Dilakukan analisa, ini jaringan kanker atau bukan," kata dia.

RSCM lantas meluncurkan Pusat Layanan Terpadu Prostat yang merupakan salah satu inovasi yang dibentuk untuk meningkatkan upaya deteksi dini kanker prostat, yang bersifat one stop service yang menyediakan layanan inovasi terbaru yaitu 'Biopsy Prostate Transperineal Robotic' pertama di Indonesia.

"Biopsi prostat dengan teknologi robotik meningkatkan ketepatan pengambilan sampel di lokasi tempat sel kanker prostat berada. Dengan adanya teknologi ini, waktu pelaksanaan biopsi dapat dilakukan lebih singkat," kata dr Agus.




Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani