• News

  • Kesehatan

Ngeri, Bayi Ini Berjuang Hidup dengan Kepala yang Terus Membesar

Pembengkakan di kepala seorang bayi
Daily Mail
Pembengkakan di kepala seorang bayi

MANILA, NETRALNEWS.COM - Sebuah keluarga memiliki seorang bayi perempuan dengan pertumbuhan besar di kepalanya. Keluarganya berusaha mati-matian untuk menemukan ahli bedah untuk menghilangkan benjolan seperti balon.

Bayi bernama MK Cruz, yang berusia 11 bulan, dilahirkan dengan penumpukan cairan di otaknya dan bengkak di luar kendali, menurut laporan media setempat. Pertumbuhannya sekarang lebih besar dari kepalanya dan mempengaruhi penglihatan bayi.

Orang-orang di komunitas lokal mereka di Manila di Filipina membantu orang tua MK mengumpulkan uang dan ibunya, Cathleen Chavoso, yakin putrinya bisa diselamatkan.

Chavoso (18) dan ayah MK, Reynaldo Cruz (32) percaya putri mereka memiliki kondisi yang disebut hydrocephalus. Ini adalah kelainan di mana cairan tulang belakang menumpuk di dalam otak, memberi tekanan pada tengkorak, menyebabkannya mengembang ke luar dan memberi tekanan pada otak.

Satu dari setiap 1.000 bayi terlahir dengan hidrosefalus, menurut Asosiasi Hidrosefalus, menjadikannya 'biasa seperti sindrom Down'. Beberapa anak yang terkena dampak lebih buruk daripada yang lain dan satu-satunya pengobatan adalah operasi untuk melepaskan tekanan di dalam tengkorak mereka menggunakan perangkat pengeringan cairan yang disebut shunt.

Namun, pembengkakan yang disebabkan oleh hidrosefalus biasanya tersebar merata di bagian atas kepala, sedangkan MK tampak keluar dari satu bagian kepalanya, menunjukkan bahwa itu bisa menjadi kondisi lain seperti tumor.

"Dia telah memiliki pertumbuhan sejak dia lahir tetapi telah tumbuh semakin besar sejak saat itu. Dokter yakin bahwa matanya bisa pulih setelah pertumbuhan di kepalanya dihilangkan," kata Cruz, yang bekerja sebagai pengemudi becak, dilansir dari laman Daily Mail, Senin (12/8/2019).

MK akan membutuhkan pirau, yakni pada dasarnya sedotan agar cairan berlebih tidak bocor keluar untuk mengalirkan tengkoraknya dan operasi lebih lanjut untuk merekonstruksi tengkoraknya.

Tengkorak anak-anak tidak sepenuhnya bersatu dan mengeras sampai mereka berusia sekitar dua tahun sehingga rentan menjadi cacat oleh kondisi tersebut. "Kami belum yakin apakah ada seseorang yang bersedia datang ke sini untuk melakukan operasi," sambung Cruz.

Menurut Cruz, tanpa operasi untuk memperbaiki tengkoraknya, itu akan cacat permanen. Pihaknya lantas diberitahu perlu menunggu dokter dari AS sebelum dapat melakukan prosedur kedua karena tidak ada orang yang dapat melakukan operasi ini di Filipina.

"Putriku bisa diselamatkan. Ada dokter yang bisa melakukannya. Kami akan terus berjuang untuknya," kata Chavoso.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli