• News

  • Kesehatan

Kenali, Gangguan Kulit Ini Bisa Serang Semua Umur dan Jenis Kelamin

CEO Klinik Pramudia dr Anthony Handoko, SpKK, FINDV.
Netralnews/Ocha
CEO Klinik Pramudia dr Anthony Handoko, SpKK, FINDV.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - CEO Klinik Pramudia dr Anthony Handoko, SpKK, FINDV memaparkan gangguan kulit yang bisa serang semua umur dan jenis kelamin, yakni Dermatitis Atopik (DA).

Dikatakan dr Anthony, menurut data World Health Organization (WHO) 2018, 15-20 persen anak di seluruh dunia terkena DA. Di Indonesia sendiri kasusnya ada sekitar 23,67 persen dan ditemukan 2 juta kasus setiap tahunnya.

"DA timbul diatas 80 persen pada fase anak atau bayi di usia 1 sampai 5 tahun. Prevalensi jadi sakit DA seumur hidup 20 persen, dan tidak ada perbedaan rasio antara laki-laki dan perempuan," kata dr Anthony saat Seminar Media di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Lebih lanjut dr Anthony jelaskan bahwa DA merupakan penyakit kulit bersifat kronis, artinya hilang timbul. Keadaan DA stabil saat terkontrol dan bisa timbul kembali karena berbagai faktor pemicu.

Bentuk DA sendiri merupakan gatal di kulit, ruam, dan kulit menjadi lebih tebal karena sering digaruk. Menurut dr Anthony, kulit tebal terjadi karena mekanisme kulit bahwa ketika digaruk maka akan menebal.

Penderita DA juga memiliki kondisi kulit kering, meski telah melakukan aktivitas mandi sekalipun, yang seharusnya bisa dalam keadaan lembab. Namun memang sudah teori dan kenyataan bahwa DA lebih sensitif, rentan, dan reaktif dengan faktor eksternal, misalnya saja paparan benda asing, terpapar cuaca terlalu panas lalu ke terlalu dingin dan sebaliknya, hingga muncul rasa gatal yang sering disalahartikan menjadi alergi.

"Tapi penyakit DA bukan penyakit kulit infeksi yang menular. Tapi DA punya sifat yang diturunkan secara genetik, baik dari ayah atau ibu yang alami DA, atau kedua orang tua yang alami DA," jelas dia.

Perlu diperhatikan pula bahwa penderita DA biasanya juga memiliki gejala penyerta seperti hidung meler, atau bersin pada pagi hari (rhinitis allergica), mata merah (conjunctivitis allergica), dan asma.

Berdasarkan tumbulnya, DA sendiri dibagi menjadi tiga fase, yakni fase bayi, fase anak dan remaja, dan fase dewasa atau geriatri. Pada bayi, lokasi DA bisa terjadi pada wajah, siku, lutut, dan scalp, sedangkan pada anak bisa terjadi di lipas siku, lipat lutut, leher, seputar mata, dan seputar leher.

Pada DA ringan gejala yang ditimbulkan yakni gatal, kulit kering, kemerahan pada seluruh tubuh atau berbentuk koin-koin jadi ada berbagai macam bentuk. Apabila pada DA berat, lokasi terkena DA agak basah dan ada kuning-kuning, sedangkan pada DA kronis, kekambuhannya berulang, terjadi penebalan kulit, dan kulit bisa menjadi lebih gelap.

"Pada kasus DA sebaiknya tidak gunakan kata-kata sembuh melainkan terkontrol, karena DA ada secara genetik dan kronik. Kalau sembuh pasien pikir tidak terkena lagi, kalau terkontrol, apa saja faktor pemicu dikendalikan agar tak timbul meradang lagi," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani