• News

  • Kesehatan

Puing Reruntuhan di Lombok Mengandung Asbestos yang Bahaya Bagi Manusia

Puing reruntuhan di Lombok mengandung Asbestos yang bahaya bagi manusia.
Safety Centre
Puing reruntuhan di Lombok mengandung Asbestos yang bahaya bagi manusia.

MATARAM, NETRALNEWS.COM - Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat memaparkan Sub Klaster Shelter telah melakukan penelitian termasuk pengujian lab yang menunjukkan bahwa puing-puing reruntuhan yang ditemukan di Lombok mengandung asbestos dalam kadar yang membahayakan bagi kesehatan manusia.
 
"Untuk itu salah satu upaya Kemensos pada Lokakarya ini adalah meluncurkan Panduan Pengendalian Asbestos dalam Situasi Bencana," tutur Dirjen, seperti dalam keterangan tertulis, Selasa (20/8/2019).
 
Hal ini merupakan salah satu capaian di antara banyak hal yang telah dilakukan oleh Sub Klaster Shelter seperti peningkatan kapasitas, mengkoordinasikan sebanyak 260 lembaga di bidang shelter, pembuatan buku Panduan Shelter untuk Kemanusiaan.
 
"Tentu saja hal ini tidak akan dapat terlaksana tanpa dukungan komitmen yang diberikan oleh International Federation of Red Cross and Red Cressents Societies/ Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC)," kata Dirjen.

Pernyataan ini disampaikan Dirjen, ketika Kemenaos bersama IFRC menggelar Lokakarya Nasional tentang Shelter dan Pemukiman yang diikuti dua agenda berskala regional yakni (1) Pertemuan Regional untuk Global Shelter Cluster team; (2) Asia-Pacific Regional Shelter Practitioners Forum.
 
Kegiatan ini digelar dalam rangka Peringatan Satu Tahun Gempa Lombok dan Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang jatuh pada 19 Agustus 2019. Tema lokakarya adalah "Mendukung Masyarakat Bertransisi Secara Aman, Nyaman, Bermartabat, dan Berpusat pada Masyarakat".
 
Pada kesempatan yang sama Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pada setiap kejadian bencana, kebutuhan shelter adalah kebutuhan yang paling besar dan paling mendesak. Namun demikian menyiapkan shelter bukan sekedar menyiapkan bangunan tempat tinggal baru untuk penyintas.
 
"Memberikan shelter kepada masyarakat terdampak bencana berarti mendengarkan mereka, mendukung mereka sesuai dengan metode pilihan yang paling tepat bagi setiap keluarga dengan mempertimbangkan kesetaraan gender, pendekatan yang inklusif, serta menghargai suara dari yang tua (lansia) hingga yang muda (anak-anak)," tuturnya.
 
Dalam proses penyediaan shelter, lanjutnya, warga didampingi dalam menyediakan tempat berlindung yang layak dimana setiap orang memiliki pilihan tersendiri untuk pulih dari dampak bencana.
 
Jadi, shelter tidak hanya mengenai desain dan kualitas material, namun juga memastikan bantuan yang diberikan memberikan keamanan, kenyamanan, bermartabat, dan memuluskan proses transisi.
 
Dirjen mengatakan penanganan bencana tidak selalu harus mendirikan posko pengungsian terpusat, lalu mengumpulkan para penyintas ke dalam satu lokasi yang sama.

"Cara pandang seperti ini tidak salah, namun alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan para penyintas untuk memilih tempat tinggal sementara di rumah sanak saudara atau tetangga yang aman dari bencana," terangnya.
 
Dikatakan Dirjen pemerintah bertugas memfasilitasi mereka termasuk memastikan tempat tinggal sementara aman dari bencana susulan.
 
Contoh berikutnya adalah upaya Kemensos dalam pemenuhan kebutuhan makanan melalui Dapur Umum. Pendirian Dapur Umum tidak selalu harus menggunakan mobil Dapur Umum dengan peralatan masak yang serba lengkap, namun juga dapat dilakukan dengan mendirikan dapur mandiri yang dikelola masyarakat itu sendiri dengan peralatan masak yang juga milik masyarakat.
 
"Dan pola penanganan bencana dengan mengedepankan kemandirian masyarakat kini sudah mulai digalakkan," tambahnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani