• News

  • Kesehatan

Kandungan Tisu Basah Ternyata Berbahaya bagi Pasien Gangguan Kulit DA

Ilustrasi penggunaan tisu basah.
Indian Express
Ilustrasi penggunaan tisu basah.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - CEO Klinik Pramudia dr Anthony Handoko, SpKK, FINDV menegaskan, kandungan pada tisu basah bisa membuat lebih bahaya keadaan gangguan kulit Dermatitis Atopik ( DA). DA sendiri merupakan penyakit kulit bersifat kronis, artinya hilang timbul dan bisa terjadi karena berbagai faktor pemicu. 

Bentuk DA sendiri merupakan gatal di kulit, ruam, dan kulit menjadi lebih tebal karena sering digaruk. Menurut dr Anthony, kulit tebal terjadi karena mekanisme kulit bahwa ketika digaruk maka akan menjadi menebal.

"Kandungan tisu basah bisa membuat lebih bahaya keadaan DA. Tisu antiseptik, tisu beralkohol tidak boleh," tegas dr Anthony baru-baru ini di Jakarta.

Ditambahkan pula bila pasien dengan DA tidak boleh juga menggunakan berbagai produk yang mengandung desinfektan, misalnya pada berbagai sabun. Anthony juga peringatkan, orang dengan DA tidak boleh juga menggunakan produk-produk yang mengandung parfum. 

Terkait kesehatan kulit, dr Anthony juga memperingatkan pada orang tua agar menghindari anak dari sentuhan atau ciuman orang lain. Menurutnya, tindakan tersebut rentan menularkan penyakit pada anak yang kondisinya rentan.

"Penderita DA memiliki kondisi kulit kering, meski telah melakukan aktivitas mandi sekalipun, yang seharusnya bisa dalam keadaan lembab. Maka apabila mandi disarankan gunakan air hangat-hangat kuku," imbau dia.

Memang sudah teori dan kenyataan juga bahwa pasien DA lebih sensitif, rentan, dan reaktif dengan faktor eksternal, misalnya saja paparan benda asing, terpapar cuaca terlalu panas lalu ke terlalu dingin dan sebaliknya, hingga muncul rasa gatal yang sering disalahartikan menjadi alergi.

Perlu diperhatikan pula bahwa penderita DA biasanya juga memiliki gejala penyerta seperti hidung meler, atau bersin pada pagi hari (rhinitis allergica), mata merah (conjunctivitis allergica), dan asma.

Berdasarkan tumbulnya, DA sendiri dibagi menjadi tiga fase, yakni fase bayi, fase anak dan remaja, dan fase dewasa atau geriatri. Pada bayi, lokasi DA bisa terjadi pada wajah, siku, lutut, dan scalp, sedangkan pada anak bisa terjadi di lipas siku, lipat lutut, leher, seputar mata, dan seputar leher.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian